Kamis, 03 Mei 2012

Kalimat Mantra Yang Diajarkan Oleh Nabi Muhammad SAW


Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya dan kami memohon
pertolongan-Nya dan kami memohon keampunan-Nya, dan kami
berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan dari
keburukan perbuatan kami. Sesiapa yang diberi petunjuk oleh Allah
maka tiadalah kesesatan baginya dan sesiapa yang disesatkan oleh
Allah maka tiadalah petunjuk baginya. Kami bersaksi bahawa tiada
tuhan kecuali Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya dan
kami bersaksi bahawa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.

Etika/Adab membaca mantra tersebut:
1. Mengerti dan memahami artinya
2. Wajib meyakini, bahwa tiada yang sanggup memberi kesesatan selain Allah SWT, dan tiada yang sanggup memberi petunjuk selain Allah SWT.
3. Bacalah mantra tersebut disetiap awal pertemuan (majlis), baik itu majlis ta'lim (tausiyah), majlis khutbah, majlis 'ilmu, atau majlis silaturahmi.
4. Bacalah mantra tersebut sambil mengharap kepada Allah SWT agar senantiasa diberi keselamatan, dijauhkan dari fitnah, dijauhkan dari malapetaka, dijauhkan dari segala hal yang menyesatkan dari makhluk Allah SWT, dan berharap agar selalu diberi petunjuk
5. Mantra ini hanya dibaca atau dihafalkan, bukan ditulis lalu ditempel, atau diselipkan sebagai jimat.
6.Orang yang menjadikan tulisan sebagai jimat, maka orang tersebut telah berbuat syirik
7.Jagalah sholat wajib dan shalat sunnah yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. shalatlah dengan khusyu'.

Asal-usul mantra tersebut:

Tersiarnya kabar berita bahwa di Jazirah arab ada seorang Nabi akhir zaman yakni Nabi Muhammad SAW, datanglah banyak orang silih berganti dari berbagai kalangan dari seluruh penjuru mata angin. salah satu tamu yang pernah datang menjumpai beliau Nabi Muhammad SAW adalah seorang paranormal terkenal, dukun yang sangat ampuh, yang memiliki mantra-mantra paling hebat dan belum pernah terkalahkan. Setelah paranormal tersebut bertemu Nabi, orang tersebut menantang Nabi: Hai engkau, andaikata engkau benar-benar nabi, mana mantra yang bisa engkau baca untuk kami. Lalu Nabi Muhammad SAW membaca kalimat do'a di atas. setelah selesai membacanya, paranormal tersebut tersungkur dihadapan Nabi dan mengakui bahwa seumur hidupnya belum pernah kedua telinganya mendengar untaian kalimat yang begitu agung dan sangat dalam maknanya. akhirnya paranormal tersebut masuk Islam dan meninggalkan segala kesyirikan

 Inqiyad ( tunduk )nya Suku bajau Kepada Allah SWT
Suku Bajo: Mereka Muslim beriman dihadapan Allah SWT
Kemusliman dan kemu'minan Suku Bajau, 
Sesuai dengan Firman Allah SWT

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى

” Dan barangsiapa berserah diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikkan maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul ( tali ) yang kokoh “. 
 ( Qs. Luqman : 22 ) 

Suku Bajo adalah kaum pelaut. Hidup di laut dan mencari makan di laut. Rumah-rumah mereka ditepi laut, namun lebih banyak kehidupan mereka dihabiskan ditengah laut. Mereka mengenal Allah SWT dan juga Nabi Muhammad SAW. Teman mereka Allah SWT. mereka pun berdo'a memohon keselamatan kepada Allah SWT ketika hendak melaut. Mereka membaca bismillahirrohmanirrohim. Inilah Do'a mantra suku bajo (bajau)

Bismillahirrahmanirrahim
Allah taala pukedo nyawaku
Muhammad pukedo atikku
Sininna uniakengnge
Pasitaika karena Allah taala
Sininna balai
Elo natattuppaq ri iya
Mutulakabbalaqka karena Allah taala
Wa balaq ana wa balagana mamaeng

Tafsiran kalimat tersebut:
Allah taala pukedo nyawaku terdiri dari kata Allah yang berarti Allah SWT. Allah
taala adalah sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yang Maha
Kuasa atau Maha Perkasa. Kata Allah taala dalam bahasa Arab adalah sebutan untuk Sang
Khalik atau Sang Pencipta sebagai pujian atau sembahan manusia. Kata ini kemudian
diserap ke dalam bahasa Bajo dan digunakan dalam penggunaan mantra. Dalam bahasa
Inggris, kata Allah taala sepadan dengan kata god. Kata pukedo berarti “yang
menggerakkan”. Kata pukedo dapat pula berarti bahwa yang menggerakkan itu memiliki
kemampuan, kesanggupan, dan daya sehingga bisa melakukannya. Artinya, dari sesuatu
yang awalnya tidak bergerak atau memiliki daya menjadi dapat bergerak berkat kemampuan
yang dimiliki oleh yang menggerakkan. Kata nyawaku berarti “nyawaku”. Nyawa dapat pula
disamakan dengan roh karena nyawa inilah yang menjadikan suatu makhluk dapat dikatakan
hidup dan bernafas.
Muhammad pukedo atikku artinya “Muhammad yang menggerakkan hatiku”. Larik ini
terdiri dari tiga kata, yaitu Muhammad, pukedo, dan atikku yang memiliki arti masingmasing.
Kata Muhammad berarti Muhammad. Kata ini merupakan sebuah nama nabi, yaitu
nabi Muhammad SAW yang ditugaskan oleh Tuhan untuk menyampaikan ajaran agama
Islam. Kata pukedo berarti yang menggerakkan. Kata ini juga terdapat pada larik kedua
mantra ini. Kata pukedo pada larik kedua dan ketiga memiliki arti yang sama, yaitu “yang
menggerakkan”. Kata atikku berarti “hatiku, merupakan organ terpenting dalam tubuh
manusia, letaknya dekat dengan jantung.
Pada larik keempat berbunyi sininna uniakengnge berarti “semua yang kuniatkan”.
Kata sininna berarti “semua, segala sesuatu yang berhubungan dengan, atau keseluruhan
bagian”. Kata uniakengnge berarti “yang kuniatkan”, sesuatu yang menjadi keinginan dan
harapan.
Pasitaika karena Allah taala artinya “pertemukan saya karena Allah SWT”. Kata
pasitaika artinya “pertemukan saya”. Kata pasitaika tersebut berarti pula perlihatkan
padaku. Kata karena artinya “karena”. Kata ini merupakan kata untuk menyatakan alasan
dan dapat disejajarkan dengan kata “sebab”. Kata Allah taala artinya Allah SWT. Arti kata
ini secara harfiah telah dijelaskan pada bagian sebelumnya.
Sininna balai artinya “semua rezeki”. Kata sininna berarti “semua” merupakan
kosakata bahasa Bugis yang diserap ke dalam mantra Bajo ini. Kata semua menyangkut
seluruh atau segala sesuatu yang terkait dengannya. Kata balai artinya “rezeki”. Kata balai
juga dapat diartikan dengan pemberian yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia.
Elo natattuppaq ri iya artinya “akan tertumpah padaku”. Larik ini terdiri dari empat
kata, yaitu kata elo artinya “akan, mau, atau hendak”, kata natuppaq artinya “ditumpahkan”,
kata ri artinya “di”, dan kata iya artinya “saya”.
Mutulakabbalaqka karena Allah taala artinya “saya memohon karena Allah SWT”.
Kata mutulakabbalaqka berarti “saya memohon”. Ka dalam kata mutulakabbalaqka
merupakan kata ganti pertama tunggal yang artinya “saya”, sedangkan kata mutolakabbalaq
artinya “memohon atau doa”. Kedua kata ini jika dirangkai berarti “saya memohon atau saya
berdoa”. Kata karena artinya “karena atau sebab”. Kata Allah taala berarti “Allah SWT”.
Pengertia kata karena dan Allah taala telah dijelaskan pada uraian sebelumnya.
Wa balaq ana wa balagana mamaeng berdasarkan arti kebahasaannya dianggap tidak
memiliki arti sebab hanya berupa rangkaian bunyi. Akan tetapi, kalimat ini memiliki makna
sebagai penegas maksud dan tujuan dari keseluruhan isi mantra ini. Kalimat ini termasuk
jenis kalimat nonsensexxiv. Kalimat ini memiliki fungsi yang serupa dengan kata kunfayakun
“Jadilah maka pun jadi” atau kalimat syahadat yang terdapat pada mantra yang lain.
Meskipun demikian, kata wa balaq ana jika dihubungkan dengan bahasa Arab berarti “dan
sampaikanlah pada kami”.

Diambil dari Tesis S2 berjudul:
MANTRA MELAUT SUKU BAJO:
INTERPRETASI SEMIOTIK RIFFATERRE
Uniawati
A4A005028
TESIS
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Mencapai Derajat Sarjana Strata 2
Magister Ilmu Susastra
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2007

Beruntunglah, Kaum Bajo adalah orang yang teguh pendirian. Mereka tak mempan oleh bujuk rayu pihak-pihak yang ingin supaya masyarakat suku Bajo meninggalkan ke Islaman mereka.
    ----------------------------------------------------------------------------
     
Forum Komunikasi Islam Berbahasa Melayu di Qatar
     
Mewaspadai Kekufuran yang Selalu Mengintai Kita 
02 Mei 2012 0:54

Kita harus bersyukur kepada Allah yang  telah memberikan nikmat dan hidayah-Nya kepada kita sehingga kita  menjadi kaum muslimin. Kita juga merasa senang dan berbangga dengan  nikmat tersebut. Tapi ingat, kita harus bisa menjaga nikmat yang besar  itu jangan sampai hilang pada diri kita, karena inilah yang terpenting.  Dengan cara apa kita menjaganya? Tentunya dengan kembali mempelajari  agama Allah, memahaminya dengan pemahaman yang benar sebagaimana  difahami oleh Rasulullah dan para shahabatnya, mengamalkannya dan  mendakwahkannya serta berdo'a kepada Allah agar kita istiqomah di  Jalan-Nya. Ingatlah sabda Rasulullah: "Barangsiapa yang Allah kehendaki  kebaikan (padanya) niscaya Allah akan fahamkan dia tentang agamanya."  (Muttafaqun 'alaih dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan)
 Dan juga sabdanya: "...Ummatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan,  semuanya masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan. Beliau ditanya:  "Siapa dia wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "(golongan) yang berada  di atas apa yang aku dan para shahabatku berada (di atasnya)." (HR.  At-Tirmidzi dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash).

Artinya kita harus memahami agama Islam sesuai dengan pemahaman  Rasulullah dan para shahabatnya serta 'ulama salaf yang mengikuti  Rasululah dan para shahabatnya. Jangan memahami Islam dengan akal kita  atau hawa nafsu kita atau pendapatnya ahli bid'ah karena nantinya akan  masuk ke dalam golongan yang diancam di neraka sebagaimana dijelaskan  dalam hadits tersebut.
Kalau kita tidak bisa menjaga nikmat tersebut, dengan kita lalai  sehingga meninggalkan agama kita, tidak mempelajarinya lagi, melupakan  Allah, sibuk dengan urusan dunia sehingga lalai dengan negeri akhirat  dan memahami agama dengan hawa nafsu kita, maka kita akan terjerumus  kepada berbagai kemaksiatan, bid'ah bahkan kesyirikan dan kekufuran.  Wal'iyaadzubillaah (dan kita berlindung kepada Allah dari  itu semua).
Ingatlah selalu firman Allah: "Dan sebagian besar dari mereka tidak  beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah  (dengan sembahan-sembahan lain)." (Yuusuf:106). Al-Haitsamiy menjelaskan  ayat ini: "Banyaknya manusia terjerumus kepada kesyirikan tanpa mereka  sadari."
 "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga  kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu."  (At-Tahriim:6).
Untuk itu adalah kewajiban bagi kita kaum muslimin untuk menjaga diri  dan keluarga kita dari api neraka dengan cara mempelajari agama kita  dengan benar. Dan yang paling pertama kali harus kita pelajari adalah  masalah tauhid dan keimanan.
 Dan tidak akan sempurna mempelajari keimanan kecuali mengetahui lawannya  yaitu kekufuran, karena kalau tidak mengetahuinya maka akan mudah  terjatuh kepadanya.
Di sini, Insya Allah akan dijelaskan tentang macam-macam kufur akbar yang akan mengeluarkan seseorang dari agama Islam.
 Pembahasan ini diambil dari kitab "As`ilah wa Ajwibah fil iimaan wal  kufr" karya Asy-Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Abdullah Ar-Rajihiy, pertanyaan  pertama dan kedua.

 Pertanyaan Pertama:
 (Macam-macam Kufur Akbar)
 Dengan apakah kufur akbar (kekufuran yang besar) atau riddah  (kemurtadan) itu terjadi? Apakah hal itu khusus dengan i'tiqaad  (keyakinan), juhuud (pengingkaran yang disertai pengetahuan terhadap  perkara yang diingkari) dan takdziib (pendustaan) ataukah lebih umum  dari hal itu?

Jawaban:
 Sesungguhnya kekufuran dan kemurtadan -wal'iyaadzubillaah- akan terjadi dengan beberapa perkara:
 - Bisa terjadi dengan juhuud (pengingkaran) terhadap perkara yang  diketahui dari agama dengan dharuurah (kemestian yaitu mau tidak mau  kita harus mengetahuinya)
 - Bisa terjadi dengan perbuatan kufur
 - Dengan ucapan kufur
 - Dan dengan meninggalkan serta berpaling dari agama Allah 'Azza wa Jalla.

Kekufuran dengan Keyakinan
 Maka kekufuran bisa terjadi dengan keyakinan sebagaimana seandainya  (seseorang) berkeyakinan (bahwa) Allah memiliki istri atau anak atau  berkeyakinan bahwasanya Allah mempunyai sekutu pada kerajaan(Nya) atau  bahwasanya Allah bersama-Nya ada yang mengatur terhadap alam ini atau  berkeyakinan bahwa seseorang bersekutu dengan Allah dalam nama-nama-Nya  atau sifat-sifat-Nya atau perbuatan-perbuatan-Nya atau berkeyakinan  bahwasanya seseorang selain Allah berhak mendapatkan ibadah atau  berkeyakinan bahwasanya Allah mempunyai sekutu pada rububiyyah(Nya),  maka sesungguhnya dia (menjadi) kafir dengan keyakinan ini dengan  kekufuran yang besar yang mengeluarkan dari agama.

Kekufuran dengan Perbuatan
 Dan akan terjadi kekufuran dengan perbuatan sebagaimana seandainya  (seseorang) sujud kepada patung atau melakukan sihir atau melakukan  jenis yang manapun dari jenis-jenis kesyirikan seperti berdo'a kepada  selain Allah atau menyembelih untuk selain Allah atau bernadzar untuk  selain Allah atau thawaf kepada selain Baitullah dalam rangka  mendekatkan diri kepada selain Allah tersebut (maka dia juga kafir  keluar dari Islam dengan perbuatannya tersebut, pent.). Maka kekufuran  itu bisa terjadi dengan perbuatan sebagaimana bisa terjadi dengan  ucapan.

Kekufuran dengan Ucapan
 Dan kekufuran bisa terjadi dengan ucapan sebagaimana seandainya (ada  orang yang) mencela Allah atau mencela rasul-Nya shallallahu 'alaihi  wasallam atau mencela agama Islam atau memperolok-olok Allah atau  kitab-Nya atau rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam atau agama-Nya.  Allah Ta'ala berfirman tentang sekelompok orang pada perang Tabuk yang  memperolok-olok Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan para shahabatnya:  "Katakanlah: Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kalian  selalu berolok-olok. Tidak usah kalian minta maaf karena kalian telah  kafir sesudah beriman." (At-Taubah:65-66).
 Maka Allah menetapkan kekufuran kepada mereka setelah mereka beriman,  maka (hal ini) menunjukkan bahwasanya kekufuran itu bisa terjadi dengan  perbuatan sebagaimana bisa terjadi dengan keyakinan dan juga dengan  ucapan sebagaimana telah lewat pada ayat ini bahwasanya sekelompok orang  ini telah kafir dengan ucapan.

Kekufuran dengan Juhuud (Pengingkaran)
 Dan kekufuran bisa terjadi dengan pengingkaran dan keyakinan dan  keduanya adalah sesuatu yang satu dan kadang-kadang keduanya ada  perbedaan. Maka (kekufuran dengan) pengingkaran itu (adalah) seperti  mengingkari perkara yang diketahui dari agama dengan kemestian seperti  mengingkari rububiyyahnya Allah atau mengingkari uluhiyyahnya Allah atau  haknya Allah terhadap ibadah atau mengingkari seorang malaikat dari  kalangan para malaikat atau mengingkari seorang rasul dari para rasul  atau sebuah kitab dari kitab-kitab yang telah diturunkan atau  mengingkari (hari) kebangkitan atau surga atau neraka atau pembalasan  atau perhitungan (di hari akhir nanti, pent.) atau mengingkari kewajiban  shalat atau kewajiban zakat atau kewajiban haji atau kewajiban puasa  atau mengingkari kewajiban berbakti kepada kedua orang tua atau  kewajiban menyambung shilaturrahmi atau yang lainnya dari  perkara-perkara yang diketahui dari agama dengan keharusan mengetahuinya  akan kewajibannya.
 Atau mengingkari pengharaman zina atau pengharaman riba atau pengharaman  minum khamr atau pengharaman durhaka kepada kedua orang tua atau  pengharaman memutus shilaturrahmi atau pengharaman suap atau yang  lainnya dari perkara-perkara yang diketahui dari agama dengan keharusan  mengetahuinya akan pengharamannya.

Kekufuran dengan Berpaling dari Agama Allah
 Dan kekufuran bisa terjadi dengan berpaling dari agama Allah,  meninggalkan dan menolak terhadap agama Allah seperti menolak agama  Allah dengan berpaling dari agama Allah tidak mempelajarinya dan tidak  pula beribadah kepada Allah, maka dia (menjadi) kafir dengan  berpalingnya tersebut dan meninggalkan (agama Allah). Allah Ta'ala  berfirman: "Dan orang-orang yang kafir  berpaling dari apa-apa yang  diperingatkan kepada mereka." (Al-Ahqaaf:3) dan Allah Ta'ala (juga)  berfirman: "Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah  diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya kemudian ia berpaling darinya?  Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang  berdosa." (As-Sajdah:22)
 Maka (kesimpulannya) kekufuran itu bisa terjadi dengan keyakinan,  pengingkaran, perbuatan, ucapan dan berpaling, meninggalkan dan menolak  (agama Allah).

Hukum Orang yang Dipaksa untuk Kufur
 Dan barangsiapa yang dipaksa mengucapkan kalimat kufur atau melakukan  perbuatan kufur maka sesungguhnya dia dalam keadaan ma'dzuur (dimaafkan)  apabila keadaan pemaksaannya itu benar-benar dalam keadaan dipaksa yang  sangat, seperti dipaksa oleh seseorang yang mampu untuk membunuhnya  lalu orang itu mengeraskan ancamannya tersebut dalam keadaan dia mampu  (untuk membunuh, pent.) atau diletakkan pedang dilehernya maka dia  ma'dzuur dalam keadaan ini apabila melakukan kekufuran atau mengucapkan  kalimat kufur dengan syarat hatinya tetap mantap dengan keimanan, adapun  apabila hatinya mantap dengan kekufuran maka sesungguhnya dia kufur  walaupun dalam keadaan dipaksa, nas`alullaahas salaamah wal 'aafiyah.

Pembagian Orang yang Berbuat Kufur
 Maka orang yang melakukan kekufuran mempunyai lima keadaan:
 1. apabila melakukan kekufuran dalam keadaan sungguh-sungguh maka orang ini kafir
 2. apabila melakukan kekufuran dalam keadaan bergurau (atau main-main) maka orang ini (juga) kafir
 3. apabila melakukan kekufuran dalam keadaan takut maka orang ini (juga) kafir
 4. apabila melakukan kekufuran dalam keadaan dipaksa sedangkan hatinya mantap dengan kekufuran maka orang ini (juga) kafir
 5. apabila melakukan kekufuran dalam keadaan dipaksa sedangkan hatinya  mantap dengan keimanan maka orang ini tidak kafir berdasarkan firman  Allah Ta'ala: "Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman  (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal  hatinya tetap tenang (mantap) dengan keimanan (dia tidak berdosa), akan  tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan  Allah menimpanya dan baginya 'adzab yang besar. Yang demikian itu  disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih  daripada akhirat dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada  kaum yang kafir." (An-Nahl:106-107)

 Pertanyaan Kedua:
 (Iman adalah Ucapan, Amalan & Keyakinan)
 Di sana ada orang yang mengatakan: "Iman adalah ucapan, amalan dan  keyakinan, akan tetapi amalan adalah syarat kesempurnaan padanya  (iman)", dan dia berkata juga: "Tidak ada kekufuran kecuali dengan  keyakinan", apakah ini dari perkataannya Ahlus Sunnah atau bukan?

Jawaban:
 Perkataan ini bukanlah dari perkataannya Ahlus Sunnah, Ahlus Sunnah  mengatakan: "Iman adalah ucapan dengan lisan, ucapan dengan hati, amalan  dengan anggota badan dan amalan dengan hati", dan di antara perkataan  mereka (Ahlus Sunnah): "Iman adalah ucapan dan amalan", dan di antara  perkataan mereka (juga): "Iman adalah ucapan, amalan dan niat" (semua  ungkapan tersebut adalah satu makna, pent.), maka iman itu mesti terdiri  dari empat perkara:
 1. Ucapan lisan yaitu mengucapkan dengan lisan
 2. Ucapan hati yaitu iqraar (penetapan) dan tashdiiq (pembenaran)
 3. Amalan hati yaitu niat dan keikhlashan
 4. Amalan anggota badan

Amalan Adalah Bagian dari Iman
 Maka amalan adalah satu bagian dari bagian-bagian iman yang empat, maka  tidak boleh dikatakan: "Amalan adalah syarat kesempurnaan (iman) atau  bahwasanya amalan adalah kelaziman (keharusan) iman, karena sesungguhnya  ini adalah ucapan-ucapannya murji`ah (yaitu golongan dari kalangan ahli  bid'ah yang mengatakan bahwa iman itu sesuatu yang satu, tidak  bertambah dan tidak berkurang sehingga imannya penduduk bumi sama dengan  imannya penduduk langit dan mengatakan juga bahwa amalan bukan bagian  dari iman, pent.) dan kita tidak mengetahui dari kalangan Ahlus Sunnah  suatu ucapan pun bahwasanya amalan adalah syarat kesempurnaan (iman).

Kekufuran Tidak Mesti Adanya Keyakinan
 Dan demikian juga ucapan orang yang mengatakan: "Tidak ada kekufuran  kecuali dengan keyakinan", maka ini adalah ucapannya murji`ah, dan di  antara ucapan mereka (murji`ah): "Amalan-amalan dan ucapan-ucapan adalah  daliil (sesuatu yang menunjukkan) atas apa-apa yang ada di dalam hati  dari keyakinan" dan ini adalah bathil, bahkan ucapan kufur itu sendiri  adalah kekufuran dan amalan kufur itu sendiri (seperti sujud kepada  patung, pent.) adalah kekufuran sebagaimana telah lewat pada firman  Allah Ta'ala: "Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang  mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: Sesungguhnya kami  hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja. Katakanlah: Apakah dengan  Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kalian selalu berolok-olok. Tidak  usah kalian minta maaf karena kalian telah kafir sesudah beriman."  (At-Taubah:65-66), yaitu (mereka telah kafir) dengan ucapan ini (yaitu  memperolok-olok Rasulullah).
Dalam ayat ini Allah tidak mensyaratkan adanya keyakinan dalam hati  ketika mengucapkan ucapan kufur tersebut, artinya semata-mata dia  mengucapkan ucapan kufur walaupun dengan bersenda gurau atau main-main  maka telah jatuh kepada kekufuran, wal'iyaadzubillaah, pent.

 Mudah-mudahan Allah selalu memberikan hidayah kepada kita dan menjaga kita dari terjatuh kepada perbuatan syirik dan kufur.
 "Rabbanaa Laa Tuzigh Quluubanaa ba'da Idz hadaitanaa wa Hablanaa min Ladunka Rahmah Innaka Antal Wahhaab." (Aali 'Imraan:8)
 "Allaahumma Innaa Na'uudzubika min An-nusyrika bika Syai`an-na'lamuh wa Nastaghfiruka limaa Laa Na'lam." (Hasan, HR. Ahmad)
 Aamiin Yaa Mujiibassaa`iliin. Wallaahu A'lam.
Dari: Buletin Al wala' wal Bara' Edisi ke-26 Tahun ke-2 / 02 Rabi'uts Tsani 1425 HSyirik Penyebab Kehancuran14 Nopember 2011 17:22Ketika  umat ditimpa berbagai macam krisis, baik krisis ekonomi, moral, akhlaq  maupun aqidah, mulailah berbagai macam organisasi dakwah dan tokoh-tokoh  para dai mencari solusi. Mereka berupaya untuk melepaskan umat dari  berbagai macam krisis tersebut.
bahaya_syirikSebagian mereka memulainya dengan  memperbaiki dari sisi ekonomi. Sebagian lainnya berpendapat bahwa tidak  akan selesai krisis ini kecuali dengan memperbaiki akhlaq.

Bahkan  sebagian yang lainnya mengatakan kita harus menyelamatkan umat dengan  menguasai negara dan memperbaikinya dari sisi politik. Hampir tidak ada  seorang pun di antara mereka yang berpendapat bahwa penyebab semua  krisis itu adalah krisis tauhid dan menyebarnya berbagai bentuk  kesyirikan-kesyirikan yang menimpa umat.

Oleh karena itu apabila  ada sekelompok umat yang memulai dakwahnya dengan memperbaiki sisi  tauhid dan memperingatkan umat dari bahaya kesyirikan, mereka  beramai-ramai menganggapnya sebagai orang yang tidak mengerti sikon (situasi dan kondisi), tidak paham fiqhul waqi’ (kenyataan yang ada),  tidak memiliki wawasan politik, tidak mengikuti zaman dan seabrek  tuduhan lainnya. Padahal sesungguhnya bahaya kesyirikan lebih besar dari  bahaya kelaparan dan kekeringan.

Hal itu karena apabila  seseorang terjatuh dalam kesyirikan, maka akan runtuhlah keislamannya  dan hilanglah makna kehidupan ini. Bukankah kita tercipta untuk  beribadah kepada Allah dan tidak boleh mempersekutukan-Nya?. Dengan  tauhid dan keimanan yang benar, segala macam krisis akan dapat diatasi.  Dengan ketaqwaan kaum muslimin kepada Allah, Allah akan bukakan barokah  dari langit dan bumi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَوْ  أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ  بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ  بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ. ألأعراف: 96
Jikalau sekiranya  penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan  melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka  mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan  perbuatannya. (al-A’raaf: 96)
Dengan ayat di atas Allah  menjelaskan bahwa jika suatu kaum senantiasa beriman dan bertaqwa  kepada-Nya maka Allah akan memberikan barakahNya. Tapi sebaliknya jika  mereka mendustakan ajaran Allah, kafir, ingkar kepada Allah dan  rasul-Nya, dengan berbuat kesyirikan dan kebid’ahan, maka barokah  tersebut akan tercabut. Ini adalah bahaya kesyirikan di dunia. Adapun  bahaya kesyirikan di akhirat lebih besar lagi. Allah tidak akan  mengampuni pelakunya dan Allah pasti akan mengadzabnya.
إِنَّ  اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ  لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا  عَظِيمًا. النساء: 48

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni  dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik)  itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan  Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (an-Nisaa’: 48)

Karena  itu pula seluruh para nabi memperingatkan umatnya dari kesyirikan. Nabi  Ibrahim, bapak para nabi dan bapak tauhid pun berdoa meminta kepada  Allah agar dirinya dan keturunannya dijauhkan dari kesyirikan.
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ ءَامِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ اْلأَصْنَامَ. ابراهيم: 35

Dan  (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini  (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku  daripada menyembah berhala-berhala. (Ibrahim: 35)

Beliau  menjelaskan alasan takutnya beliau dari kesyirikan yaitu karena  peribadatan terhadap berhala telah banyak menyesatkan manusia.
رَبِّ  إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ  مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ. ابراهيم: 36

Ya  Rabb-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan  daripada manusia. Barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang  itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka  sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ibrahim: 36)

Jika  nabi yang mulia, bapak para Nabi, dan bapak Tauhid mengkhawatirkan  dirinya dari kesyirikan maka tentunya seseorang yang bukan Nabi lebih  dikhawatirkan untuk terjerumus ke dalam kesyirikan-kesyirikan. Berkata  Ibrahim At-Taimi: “Siapakah yang merasa aman dari kesyirikan setelah  Ibrahim?”
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memperingatkan para shahabatnya dari bahaya kesyirikan dengan sabdanya:
أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ. فَسُئِلَ عَنْهُ؟ فَقَالَ: الرِّيَاءُ رواه أحمد وصححه الألباني

Yang  paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil. Para shahabat  bertanya: “Apa itu syirik kecil?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam  menjawab: “Ar-Riya’. (HR. Ahmad dan Syaikh al-Albani menshahihkannya)

Dalam  hadits di atas Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam mengkhawatirkan  kesyirikan yang kecil terhadap para shahabat-shahabatnya yang besar  kedudukannya.
Dari sini menunjukkan kalau pada diri shahabat yang  mulia masih dikhawatirkan terjatuh dalam kesyirikan, tentunya terlebih  lagi pada umat yang setelahnya. Karena orang yang setelah mereka jauh  lebih rendah tingkat keimanan, ketaqwaan dan keilmuannya, sehingga  sangat dikhawatirkan akan terjerumus dalam kesyirikan. Tidak hanya  kesyirikan-kesyirikan kecil bahkan sangat mungkin terjerumus dalam  syirik-syirik besar yang akan mengeluarkan mereka dari agamanya tanpa  terasa.

Berarti kita harus lebih takut dan lebih berhati-hati  dari bahaya kesyirikan yang mengancam manusia, karena tidak ada seorang  pun yang dijamin aman oleh Allah dari bahaya tersebut.

Yang lebih  mengharuskan kita takut adalah adanya kesyirikan yang sangat samar.  Bagaikan semut hitam di atas batu hitam di malam yang kelam. Rasulullah  Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
الشِرْكُ أَخفَى مِنْ  دَبِيْبِ النَّمْلِ. قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَهَلْ  الشِّرْكُ إِلاَّ مَا عُبِدَ مِنْ دُوْنِ اللهِ، أَوْ مَا دُعِيَ مَعَ  اللهِ؟ قَالَ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ، الشِّرْكُ فِيْكُمْ أَخْفَى مِنْ  دَبِيبِ النَّمْلِ. رواه أبو يعلى وابن المنذر

Kesyirikan itu  lebih samar dari rayapan semut. Abu Bakar (terkejut) dan bertanya kepada  Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : “Wahai Rasulullah bukankah  kesyirikan itu adalah hanya beribadah kepada selain Allah atau menyeru  kepada selain Allah?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab:  “Engkau mengecewakan ibumu! Sungguh kesyirikan di antara kalian lebih  samar dari rayapan semut.” (HR. Abu Ya'la dan Ibnul Mundzir).

Maka kita harus ekstra hati-hati dan harus melindungi diri dari kesyirikan-kesyirikan tersebut dengan dua cara.

Pertama, kita harus selalu berdoa kepada Allah, berlindung dari kesyirikan-kesyirikan tersebut, di antaranya dengan doa:
أَللَّهُمَّ  إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ  وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ. (رواه أحمد وصححه الألباني في صحيح  الترغيب 1/19)

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan  syirik yang kami ketahui dan kami meminta ampun kepada-Mu dari apa yang  kami tidak ketahui. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Albani dalam Shahih  at-Targhib, 1/19)

Kedua, kita harus mencari ilmu dan belajar,  khususnya tentang tauhid dan syirik. Dengan ilmu tersebut pandangan kita  semakin tajam dan jeli. Dapat melihat kesyirikan sekecil apa pun.  Sebaliknya tanpa ilmu sering manusia terjerumus ke dalam kesyirikan  bahkan kesyirikan yang besar dalam keadaan tidak sadar dan merasa  dirinya sedang berbuat baik.
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ  بِاْلأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً ]103[ الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي  الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا .  أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ  أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا


Katakanlah:  "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling  merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya  dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka  berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap  ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka  hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu  penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (al-Kahfi: 103-105)

Tanpa  ilmu tentang tauhid dan hal-hal yang merusaknya berupa  kesyirikan-kesyirikan kadang manusia mengucapkan satu kalimat yang  dianggap biasa (tidak ada apa-apanya) ternyata menjerumuskan dirinya ke  dalam neraka sejauh tujuh puluh tahun perjalanan. Dalam riwayat lain  dikatakan tersungkur ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.  Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ  لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ يَنْزِلُ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا  بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ. رواه البخاري ومسلم

Sesungguhnya  seorang hamba berkata dengan satu kalimat, ternyata dengan kalimat itu  ia tersungkur ke dalam api neraka sejauh antara timur dan barat. (HR.  Bukhari dan Muslim)

Ketika seseorang berkata kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam :
مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ

Ini adalah kehendak Allah dan kehendakmu
maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menegurnya dengan keras dan bersabda:
أَجَعَلْتَنِيْ  لِلَّهِ نِدًّا؟! بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ. رواه أحمد وابن أبي شيبة  والبخاري في الأدب المفراي والنساء وابن ماجه

Apakah engkau akan  menjadikan aku sebagai tandingan bagi Allah? Bahkan (katakan) hanya  kehendak Allah semata. (HR. Imam Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Bukhari dalam  Adabul Mufrod dan Nasa’i dan Ibnu Majah).

Kesyirikan sangatlah berbahaya, karena dapat mengakibatkan kejelekan-kejelekan di dunia dan di akhirat, diantaranya:

Syirik  merupakan kedurhakaan kepada Allah. Karena tidaklah manusia dan jin  diciptakan kecuali hanya untuk beribadah kepada-Nya semata. Tetapi kaum  musyrikin justru beribadah kepada selain Allah yang menciptakannya. Ini  adalah kedurhakaan yang besar.

Kesyirikan merupakan penghinaan  terhadap Allah. Karena seorang yang beribadah kepada selain Allah  berarti dia menyamakan sesembahannya itu dengan Allah atau mendudukkan  makhluk tersebut seperti kedudukan Allah. Sungguh sebuah penghinaan  besar, menyamakan Allah yang menciptakan seluruh alam dengan ciptaan-Nya  yang sangat lemah dan serba terbatas.

Kesyirikan akan  menggugurkan amalan. Jika sebuah amalan shalih diiringi dengan riya’,  maka akan gugurlah amalan-amalan tersebut dan tidak bernilai di sisi  Allah. Dan jika seorang hamba melakukan syirik besar, maka akan gugur  seluruh amalan-amalannya walaupun amalannya seperti amalan Rasulullah  Shalallahu ‘alaihi wassalam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. الزمر: 65

Jika  kamu mempersekutukan (Rabb-mu), niscaya akan hapuslah amalmu dan  tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (az-Zumar: 65)

Syirik  menghalangi pelakunya untuk masuk ke dalam surga. Seseorang yang  amalannya gugur dengan perbuaan syirik yang dia lakukan, maka Allah  tidak memberikan balasan sedikitpun terhadap amalan shalihnya. Bahkan  sebaliknya ia akan mendapatkan adzab dari Allah karena kedurhakaan dan  penghinaan kepada Allah dengan kesyirikan yang dia lakukan. Maka  pantaslah Allah mengharamkan mereka –para musyrikin - tersebut dari  surga.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّهُ مَنْ  يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ  النَّارَ وَمَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ أَنْصَارٍِ المائدة: 72

Sesungguhnya  orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah  mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada  bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (al-Maidah: 72)

Dosa  syirik tidak akan diampuni. Jika seseorang mati membawa dosa syirik dan  ia belum bertaubat darinya, maka Allah tidak akan mengampuninya. Adapun  bagi dosa selainnya, maka hal itu di bawah kehendak Allah yakni masih  memungkinkan untuk diampuni oleh Allah.
Sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ. النساء: 48

Sesungguhnya  Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa  yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.  (an-Nisaa’: 48)

Disamping itu masih banyak lagi akibat-akibat  jelek yang ditimbulkan oleh kemaksiatan-kemaksiatan di dunia dan di  akhirat yang telah dijelaskan oleh para ulama. Karena kesyirikan adalah  sebesar-besar kemaksiatan, maka dampak jeleknya adalah paling besar  seperti merusak hati, mengurangi keyakinan dan keimanan, mematikan hati,  menyempitkan dada, menghilangkan ketenangan, menyebabkan hilangnya  wibawa, terhina dan lain-lainnya. Sebagaimana firman-Nya:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى. طه: 124

Dan  barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya  penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat  dalam keadaan buta. (Thaha: 124).

Wallahu a’lam

Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 07/Th. I 28 Sya’ban 1424 HTauhid, Sebuah Keharusan10 September 2011 0:12LaailahaillallohTujuan Diciptakannya  Manusia
Tak jarang dari umat manusia yang belum memahami  dengan sebenarnya akan hakekat keberadaannya di muka bumi ini.
Sebagian  mereka beranggapan bahwa hidup ini hanyalah proses alamiah untuk menuju  kematian. Sehingga hidup ini tak ubahnya hanyalah makan, minum, tidur,  beraktifitas dan mati, lalu selesai! Tanpa adanya pertanggungjawaban amal di  hari kiamat kelak.
Allah , Pencipta semesta alam mengingkari anggapan batil  ini dengan firman-Nya (artinya): “Dan mereka berkata: “Kehidupan ini  tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, (sebagian) kami ada yang mati dan  sebagian lagi ada yang hidup (lahir). Dan tidak ada yang membinasakan kita  kecuali masa.” Mereka sekali-kali tidak mengerti tentang hal itu, mereka tidak  lain hanyalah menduga-duga saja.” (Al Jatsiyah: 24)

Bila demikian keadaannya, lalu apa tujuan  diciptakannya kita di muka bumi ini?
Para pembaca,  sesungguhnya keberadaan kita di muka bumi ini tidaklah sia-sia belaka. Allah  berfirman (artinya): “Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan  kalian sia-sia belaka?” (Al Mu’minun: 115)
Bahkan dengan tegas  Allah menyatakan (artinya): “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia  kecuali untuk beribadah (mengesakan ibadahnya) kepada-Ku, Aku tidak menghendaki  rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi  makan pada-Ku, Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pemberi rizki Yang mempunyai  kekuatan Lagi Maha Sangat Kuat” (Adz Dzariyat: 56-58)

Tentunya,  ibadah di sini hanyalah berhak diberikan kepada Allah semata, karena Dia-lah  satu-satunya Pencipta kita dan seluruh alam semesta ini. Allah berfirman  (artinya): “Hai manusia beribadahlah kepada Rabbmu yang telah  menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dialah yang  menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dan Dia yang  menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan sebab itu  segala buah-buahan sebagai rizki untukmu, karena itu janganlah kamu menjadikan  sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.” (Al Baqarah:  21-22)
Demikianlah hikmah dan tujuan penciptaan kita di muka bumi ini.
Makna Ibadah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:  “Ibadah adalah suatu nama yang mencakup seluruh perkara yang dicintai oleh Allah  dan diridhai-Nya baik berupa ucapan maupun perbuatan, baik yang dhahir maupun  batin.”
Asal ibadah adalah ketundukan dan perendahan diri. Suatu ibadah  tidaklah dikatakan ibadah sampai pelakunya bertauhid yaitu mengikhlashkan  peribadatan hanya kepada Allah dan meniadakan segala sesembahan kepada selain  Allah . Atas dasar itu Ibnu Abbas berkata: “Makna beribadah kepada Allah adalah  tauhidullah (yaitu mengesakan peribadahan hanya kepada Allah).
Itulah  realisasi dari kalimat tauhid Lailaha Ilallah merupakan kalimat  yang sangat akrab dengan kita, bahkan kalimat inilah yang kita jadikan sebagai  panji tauhid dan identitas keislaman. Ia sangat mudah diucapkan, namun menuntut  adanya sebuah konsekuensi yang amat besar. Oleh karena itu, Allah gelari kalimat  ini dengan “Al ‘Urwatul Wutsqo” (buhul tali yang amat kuat yang tidak akan  putus), sebagaimana dalam firman-Nya: “Tidak ada paksaan untuk  (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan  yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut (segala apa yang  diibadahi selain Allah) dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia telah  berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha  Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 256)

Dakwah Tauhid Adalah Misi Utama Yang Diemban Para  Rasul
Tujuan pokok diutusnya para Rasul adalah menyeru umat  manusia agar beribadah hanya kepada Allah semata, dan melarang dari peribadatan  kepada selain-Nya, sebagaimana Allah berfirman (artinya): “Sungguh  tidaklah Kami mengutus seorang rasul pada setiap kelompok manusia kecuali untuk  menyerukan: “Beribadalah kalian kepada Allah saja dan tinggalkan thaghut (yakni  sesembahan selain Allah).” (An Nahl: 36)
“Dan Kami  tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan padanya  bahwa tidak ada sesembahan yang haq diibadahi melainkan Aku, maka beribadahlah  kepada-Ku”. (Al Anbiya’: 25)
Nabi Nuh sebagai seorang rasul  pertama mengajak umatnya kepada tauhid selama 950 tahun. Demikian pula  Rasulullah sholallohu'alaihiwasallam selama 13 tahun tinggal di Mekkah menyeru umatnya kepada tauhid dan  dilanjutkan di Madinah, sampai-sampai menjelang wafat pun beliau tetap  mewanti-wanti tentang pentingnya tauhid dan bahayanya syirik, beliau  berkata:
“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani karena  mereka menjadikan kuburan nabi mereka sebagai sebagai  masjid-masjid.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Sebagaimana pula yang  beliau wasiatkan kepada Sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallohu'anhu tatkala diutus ke negeri  Yaman:
“Sesungguhnya kamu akan mendatangi sekelompok kaum dari  Ahlul Kitab, maka jadikanlah yang pertama kali dalam dakwahmu, (ajakan) supaya  mereka mau bertauhid kepada Allah .” (HR. Muslim)

Tauhid Adalah Solusi Dari Problema  Umat
Di kancah perselisihan dakwah dengan lahirnya berbagai  macam bendera-bendera Islam yang semuanya mengatasnamakan Islam. Sebagian mereka  mengatakan Islam tidak akan maju dan mulia selama tidak memperhatikan sisi  ekonomi kaum muslimin. Yang lain berpandangan bahwa medan politik adalah solusi  umat, meraih kekuasan adalah target utama sebagai jembatan penegak syari’at di  muka bumi, dan sekian banyak logika-logika yang hanya berdasarkan kepada  perasaan ataupun emosional semata tanpa didasari dengan ilmu.
Para pembaca  yang mulia, perhatikanlah berita penegasan dari Allah , bahwa dakwah tauhid yang  merupakan tujuan diutusnya para rasul dan para nabi, dan diturunkannya  kitab-kitab suci dari langit, adalah faktor terbesar untuk meraih kejayaan,  mengangkat kehormatan, kemuliaan dan kesejahteraan kaum muslimin. Allah  berfirman (artinya): “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang  yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia  benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah  menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan  meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia  benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan  menjadi aman sentosa. Yaitu mereka tetap beribadah hanya kepada-Ku dengan tiada  mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir  sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An Nur: 55)
“Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan  bertakwa, pastilah kami melimpahkan berkah dari langit dan bumi.” (Al A’raf: 96)
Dan tauhid merupakan landasan utama dari sebuah keimanan dan  ketakwaan.

Keutamaan Tauhid
Allah 'azzawajalla  tidaklah mewajibkan suatu perkara, melainkan pasti padanya terdapat  keutamaan-keutamaan yang sangat mulia. Begitu pula dengan “Tauhid” yang  merupakan perkara paling wajib dari perkara-perkara yang paling wajib, tentunya  pasti mempunyai berbagai keutamaan. Di antara keutamaannya ialah:

1. Tauhid Adalah Tingkat Keimanan Yang Tertinggi
Kita  ketahui bahwa iman itu bertingkat-tingkat, dan tingkatan yang tertinggi adalah  kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah. Rasulullah Sholallohu'alaihi wasallam bersabda:
“Iman  itu ada enam puluh cabang lebih, yang paling tinggi adalah perkataan/ucapan Laa  Ilaaha Illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari  jalan.” (HR. Muslim)

2. Tauhid Sebagai Syarat Diterimanya Suatu Ibadah
Allah Subhanahuwata'aala berfirman (artinya):
“Seandainya mereka menyekutukan Allah,  niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al An’am: 88)

3. Tauhid Merupakan Sebab Bagi Datangnya Ampunan Allah Subhanahuwata'aala
Hal ini didasarkan kepada firman Allah 'azzawajalla:  “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik (ketika pelakunya  meninggal dunia dan belum bertaubat darinya), dan Dia mengampuni dosa yang di  bawah syirik bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (An Nisa’: 48  & 116)

4. Tauhid Sebagai jaminan Masuk ke Al Jannah Tanpa  Hisab
Ketika para shahabat bertanya-tanya tentang 70.000 orang dari  umat Muhammad r yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab, maka Rasulullah Sholallohu'alaihi wasallam  bersabda:
“… mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah,  tidak minta dikay dan tidak mengundi nasib dengan burung dan sejenisnya dan  mereka bertawakkal hanya kepada Allah.” (H.R. At Tirmidzi)

5. Orang Yang Tauhidnya Benar Pasti Akan Masuk Al  Jannah
Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Sholallohu'alaihi wasallam:
“Barangsiapa bertemu Allah dalam keadaan tidak  menyekutukan-Nya dengan sesuatu, niscaya dia akan masuk surga.” (H.R. Muslim)

6. Tauhid Merupakan Sumber Keamanan
Sebagaimana firman Allah 'azzawajalla (artinya): “Orang-orang yang beriman dan tidak  mencampuradukkan keimanan mereka dengan kedhaliman (kesyirikan), mereka itulah  yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat  petunjuk.” (Al An’am: 82)

Bagaimanakah Bahaya Syirik  ?
Syirik merupakan lawan dari tauhid. Kalau tauhid mengandung  makna menunggalkan Allah dalam hal ibadah, maka syirik mengandung makna  menyekutukan Allah dalam hal ibadah. Di saat tauhid mempunyai banyak keutamaan  maka sebaliknya syirik pun sangat berbahaya dan mempunyai banyak mudharat. Di  antaranya adalah:

1. Dosa Syirik Tidak Akan Diampuni Oleh Allah 'azzawajalla
Allah 'azzawajalla berfirman (artinya):
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa  syirik (ketika pelakunya meninggal dunia dan belum bertaubat darinya), dan Dia  mengampuni dosa yang di bawah syirik bagi siapa saja yang  dikehendaki-Nya.” (An Nisa’: 48 & 116)

2. Kesyirikan Adalah Kedhaliman Yang Besar
Firman Allah 'azzawajalla  (artinya): “Sesungguhnya kesyirikan adalah kedhaliman yang  besar.” (Luqman: 13)

3. Orang Yang Meninggal Dunia Dalam Keadaan Musyrik Akan Masuk Neraka Dan  Kekal Di Dalamnya
Allah berfirman (artinya):
“Sesungguhnya  barangsiapa yang menyekutukan Allah maka sungguh Allah mengharamkan baginya  surga, dan tempat kembalinya adalah neraka dan tidak ada penolong bagi  orang-orang yang dhalim.” (Al Maidah: 72)
Rasulullah Sholallohu'alaihi wasallam juga  bersabda:
“Barangsiapa meninggal dunia dan dia berdo’a kepada  selain Allah niscaya dia masuk neraka.” (HR. Al Bukhari)

4. Kesyirikan Penyebab Terpecah Belahnya Umat
Firman Allah 'azzawajalla (artinya):
“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang  menyekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka  menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada  pada golongan mereka.” (Ar Ruum: 31-32)
Semoga Allah menjauhkan  kita semua dari kesyirikan, dan menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang  bertauhid, dan para penghuni jannah (surga)-Nya. Amin…Membongkar Kerancuan Dalam Tauhid01 Februari 2010 9:48Oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab   

syahadatSyaikul Islam Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah  berkata :”Ketahuilah semoga Allah merahmati anda bahwa tauhid ialah mengesakan  Allah dengan beribadah. Inilah dia agama semua Rasul Allah yang diutus untuk  para hamba- Nya. Utusan paling pertama adalah adalah Nuh `alaihis-salam 1) yang diutus Allah Ta’ala kapada kaumnya ketika mereka berlaku ghuluw (berlebih-lebihan ) terhadap para ulama sholihin yaitu Wadd,  Suwa`, Yaghuts, Ya`uq, serta Nasr “. Makna tauhid menurut syar`i ialah mengesakan  Allah dengan cara mempersembahkan segala apa yang khusus menjadi hak Allah;  berupa asma`, sifat-sifat, perbuatan-perbuatan dan peribadatan hanya kepada  Allah semata, baik secara ilmu maupun secara aqidah (keyakinan).

Tauhid  tidak akan menjadi sempurna kecuali jika meliputi dua hal nafi (penolakan)  dan itsbat (penetapan) 2) Sebab nafi semata-mata berarti masih mengandung kemungkinan  adanya penyekutuan. Pola-pola itsbat serta nafi ini didalam Al-Qur`an terdapat banyak sekali.



Sementara  sejumlah ahli ilmu (ulama`) telah mendefinisikan tauhid 3) dalam beberapa pengertian, namun maknanya satu diataranya:

Al  Qodhi ‘Iyadh rahimahullah dalam as-Syifa`(1/388) mengatakan:”tauhid ialah  menetapkan satu zat yang tidak sama dengan zat-zat lain dan tidak lepas dari sifat-sifat”.

Al-Hafidz  Qowam as Sunnah At Taimi al Ashfahani mengatakan: ”At tauhid mengikuti wazan  at-taf`il; merupakan mashdar dari wahhada-yuwahhid. Arti wahhad-tullaha yakni: Aku meyakini bahwa hanya ALLAH sendiri yang ESA dalam dzat maupun sifat-sifatnya, tiada sesuatupun yang menyerupainya.”

Syaikhul  Islam Ibnu Taimiyah rahimmahullah dalam majmu Fatawanya (4/150) mengatakan: ”Adapun tauhid yang karenanya para utusan Allah diutus dan kitab-kitab Allah diturunkan ialah perintah Allah kepada para hambanya agar  beribadah hanya kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan (syirik) sesuatupun dengan-Nya,  sehingga selain Allah tidak memiliki sebagian kecil pun apa yang menjadi hak khusus Allah berupa peribadatan dengan segala rangkaianya. Ini jika dilihat dari segi pengamalan (amaliyah lahir maupun batin). Adapun jika dilihat dari  sisi perkataan maka tauhid ialah iman terhadap suatu sifat yang Allah telah menetapkan bagi diri-Nya dan Rasulullah shallallahu alaihi wa salam telah  menetapkan bagi Allah.

Syaikh  Abdul Haq Al-Hasyimi rahimmahullah dalam Syarh Kitabit–Tauhid min Shahih Bukhari  hal 11 mengatakan  Tauhid ialah penetapan ke-Esaan Allah Ta`ala. Dan penetapan sifat-sifatnya dengan cara menafikan (meniadakan) penyerupaan (tasybih) dan ta`thil (penolakan terhadap sifat-sifatNya)”

Selanjutnya  diterangkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, bahwa tauhid itu adalah  diin (agamanya) para rasul. Mereka diutus untuk membawa din ini.

Rasul Allah paling pertama adalah Nuh alihis-salam, beliau diutus untuk  menyeru kaumnya agar mereka mentauhidkan Allah serta mengingatkan mereka supaya jangan menyembah kepada patung: Wadd, Suwa`, Yaghuts, Ya`uq dan Nashr.

Sebab-sebab  peribadatan mereka terhadap patung-patung itu ialah karena ghuluw (berlebih-lebihan)  terhadap orang–orang shalih.

Nama-nama  Wadd, Suwa`, Yaghuts, Ya`uq dan Nashar, sebelumnya nama orang-orang shalih  yang telah wafat, kemudian mereka dimonumenmtalkan menjadi patung-patuing. Mula-mula tidak disembah, namun ketika zaman menjadi semakin panjang, akhirnya patung-patung innipun disembah.

Karena  itulah Nuh ‘alaihi salam mengajak mereka untuk kembali bertauhid kepada Allah  dan mengingatkan mereka supaya jangan syirik kepada Allah Azza wa Jalla. Begitu pulalah semua rasul Allah, mereka diutus untuk mengemban prinsip ini, prinsip Tauhidullah.(Al-Anbiya`:25)

Kemudian  rasul paling akhir adalah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam. Beliau inilah  yang telah membinasakan patung-patung orang shalih tersebut.

Manakala  terjadi Fathul Makkah, ketika beliau masuk Ka`bah, beliau mendapati patung-patung  yang jumlahnya mencapai 360 buah patung, terdapat didalam dan disekitar Ka`bah, lalu dihancurkan lah patung–patung itu oleh beliau dengan kampak seraya mengucapkan: “yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap, sesungguhnya yang  batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (Al-Isra`:81)

Allah  Ta`ala telah (sengaja) mengutus Nabi Muhammad sallahu ‘alaihi wa salam ini  ketengah-tengah manusia yang beribadah, berhaji, shadaqoh dan berdzikir (banyak-banyak) kepada Allah, namun bersamaan dengan itu, mereka menjadikan para makluk sebagai wasilah (perantara) yang dianggap bisa menjadi penghubung antara diri mereka  dengan Allah. Mereka mengatakan: “Kami menginginkan mereka untuk menjadi wasilah yang mendekatkan diri kami kepada Allah, kami menghendaki syafa`at mereka.”

Begitulah  manusia jahiliyah, mereka menyembah patung-patung, kayu-kayu, kuburan-kuburan  dan monumen-monumen orang–orang shlih dengan anggapan bahwa apa yang mereka lakukan itu bukanlah peribadatan tetapi hanyalah upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Allah Ta`ala telah berfirman mengenai meareka:
Kami  tidak mnyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada  Allah dengan sedekat-dekatnya. (Az-Zumar: 3) 4)
Mereka  sebenarnya yakin dan mengakui bahwa benda serta patung-patung tesebut tidaklah  akan mampu memberikan manfaat atau madharat apapun kepada mereka, hanya saja mereka beranggapan bahwa semua itu adalah pemberi syafa`at kelak disisi Allah. akan tetapi sungguh sayang, syafa`at semacam itu adalah syafa`at yang tiada  bermanfaat, sebuah syafaat yang hakikatnya tidak ada, sebeb tiada seorangpun yang bisa memberi syafaat tanpa idzin dari Allah, padahal Allah ta`ala tidak mungkin akan mengijinkan seseorang untuk memberikan syafa`atnya (kelak di  hari kiamat) kecuali kepada orang yang diridhai-Nya.

Siapapun  yang tidak diridhai oleh Allah baik yang memberi syafa`at maupun yang diberi,  maka Allah tidak mungkin memberi izin padanya ubntuk memeri atau mendapat syafa`at. Firman-Nya:
Maka  tidak berguna lagibagi mereka syafaat dari orang –orang yang memberi syafaat  (Al Mudatsir: 48)
Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali (syafaat) orang yang Allah –Maha Rahman-  telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. (Taha: 109).
Demikianlah, orang-orang Quraisy Jahiliah dahulu banyak melakukan kebaikan, sengang bersadaqah dan suka berhaji di Baitullah, namun segala kebaikan mereka itu tidak bermanfaat sama sekali karena mereka adalah orang-orang kafir, musyrik dan penyembah berhala. Kepada mereka dan kepada orang-orang semisal mereka Nabi shalallahu  alaihi wasallam diutus.

Demikianlah,  mereka terus menerus berada dalam kekufuran dan kemusydikan, mereka menuhankan  malaikat, Isa bin Maryam, orang-orang shalih dan berhala-berhala dengan anggapan bahwa merekalah calon pemberi syafaat di sisi Allah. Maka (sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab), diutuslah Muhammad Shalallahu alaihi  wasallam ketengah-tengah mereka guna memperbaharui kembali millah Ibrahim  alaihis salam yang telah dirusak oleh tangan-tangan kotor jahiliah. Beliau menegaskan bahwa amaliyyah taqarub (pendekatan diri kepada Allah) dan peribadatan hanyalah menjadi hak mutlak Allah Ta`ala, dengan demikian tidaklah layak sama  sekali tindakan taqarub serta peribadatan ini ditujukan kepada selain Allah walaupun kepada seoran malaikat atau seorang nabi, apalagi kepada selain keduanya.

Itulah  kemusyrikan mereka, kemusyrikan yang terjadi dalam masalah uluhiyyah. Al Qur`an   telah banyak menjelaskan bahwa kemusrikan Quraisy jahiliah dahulu hanyalah terjadi dalam hal peribadatan saja. Adapun secara Rububiyyah maka sebenarnya mereka telah meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb pencipta segala  sesuatu, satu-satunya Dzat Yang Maha mengabulkan do`anya orang yang sedang dalam keadaan kritis dan satu-satunya Dzat Yang Kuasa melepaskan segala marabahaya. Begitu pulalah keyakinan-keyakinan meraka lainnya sebagaimana yang telah disebutkan oleh Allah dalam Al Qur`an Al Karim berkenaan dengan ikrar mereka terhadap  Rubbubiyyah Allah. Akan tetapi tetap saja mereka sebatgai orang-orang musyrik secara ubudiyyah, sebab mereka juga melakukan peribadatan kepada selain Allah. Kemusyrikan semacam ini jelas merupakan kemusyrikan yang mengeluarkan seseorang  dari keislaman.

Sementara  itu pengertian tauhid secara lafzhi ialah menjadikan sesuatu menjadi satu.  Jadi mentauhidkan Allah artinya menjadikan segala sesuatu hanya tertuju kepada Allah semata.

Allah  Tabaraka wa Ta`ala memiliki hak wajib yang hanya kepada Dia saja hak itu diberikan,  dan tidak boleh diberikan kepada selain-Nya. Hak Allah tersebut terbagi menjadi beberapa bagian:
1.    Hak pemilikan kekuasaan (Rububiyyah)
2.    Hak Peribadatan (Uluhiyyah), dan
3.    Hak Asma` wa Shifat.
Jadi  seperti yang telah dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, orang-orang  musyrik (Arab dahulu) yang Nabi shalallahu alaihi wasallam diutus ketengah-tengah  meraka itu, secara Rububiyyah beriman kepada Allah. Mereka meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta alam semesta dan satu-satunya pemberi rizki,  tiada pencipta dan pemberi rizki selain Allah, tiada yang menghidupkan serta mematikan selain Dia, tiada yang mengatur segala urusan alam semesta ini melainkan Dia. Mereka yakin betul bahwa langit-langit  yang tujuh serta penghuninya  dan bumi yang tujuh beserta segenap isinya adalah hamba bagi Allah dan semuanya berada dalam genggaman serta kekuasaan-Nya.

Banyak  sekali ayat Al Qur`an yang menerangkan tentang ikrar mereka terhadap tauhid  rububiyyah, tetapi ikrar mereka tersebut tidak memberikan arti apa-apa bagi mereka bagi mereka, sebeb yang mereka ikrarkan  hanyalah tauhid rububiyyah belaka. 5) Selamanya, iman terhadap tauhid rububiyyah tidak akan memberi manfaat apapun  kepada pelakunya sebelum ia juga berikrar terhadap tauhid uluhiyyah 6) dan melaksanakan peribadatan hanya kepada Allah semata.

Ketahuilah  bahwa ikrar terhadap tauhid rububiyyah mengandung konsekuensi untuk ikrar  terhadap tauhid uluhiyyah, sedangkan ikrar terhadap tauhid uluhiyyah menngandung pengertian ikrar terhadap tauhid rububiyyah. Penjelasanya adalah:

Bahwa  macam tauhid yang pertama (rububiyyah) merupakan petunjuk pasti untuk sampai  kepada tauhid yang kedua (uluhiyah) yakni ikrar terhadap tauhid rububiyah secara pasti mengharuskan pula untuk ikrar terhadap tauhid uluhiyah  sebeb apabila telah diyakini bahwa Allah-lah satu-satunya pencipta dan pengatur  segala sesuatu, dan bahwa ditangan-Nyalah segala kekuasaan, maka Dia menjadi wajib untuk disembah dan bukan selain-Nya.

Sedangkan  macam tauhid yang kedua (uluhiyah) ketika seseorang telah mengimani, otomatis  ia (mestinya) mengimani tauhid yang pertama (rububiyah), sebab tidak ada yang bisa dijadikan Ilah (sesembahan) kecuali Ar Rabb Ta`ala, Dzat yang memiliki sifat Rububiyyah, maha pencipta dan maha pengatur segala urusan.

Dalil-dalil  al Qur`an yang menegaskan bahwa orang-orang musyrikin yang diperangi oleh  Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam itu telah mengikrarkan rububiyyah Allah  antara lain:
“Katakanlah: Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan dari bumi, atau siapakah  yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan pengelihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab : Allah.  Maka katakanlah : mengapa kamu tidak bertakwa( kepada-Nya) ?”(Yunus : 31).

“Katakanlah: Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?  Mereka akan menjawab : Kepunyaan Allah. Katakanlah : Maka apakah kamu tidak ingat?. Katakanlah : Siapakah yang empunya langit yang tujuh dan yang empunya ‘arsy yang besar? Mereka akan menjawab : kepunyaan Allah. Katakanlah : Maka  apakah kamu tidak bertakwa?. Katakanlah : iapakah yang ditangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kamu mengetahui? Mereka akan menjawab: Kepunyaan Allah. Katakanlah : Kalau demikian, maka dari jalan manakah kamu ditipu? (Al Mukminun : 84-89).

Dengan  demikian adalah amat nyata bahwa kaum musyrikin benar-benar telah mengikrarkan  tauhid rububiyah, namun hal itu tidaklah cukup bagi mereka untuk disebut sebagai  orang-orang yang bertauhid, dan tidak cukup pula untuk menjadikan terpeliharanya darah serta harta benda mereka.

Dari  sini menjadi amat terang pula bahwa barang siapa yang mengingkari tauhid al-ibadah  (uluhiyah), maka bukanlah ia termasuk golongan orang muslim, sekalipun ia mengimani rububiyyah Allah.

Itulah kejahilan mereka dalam memahami makna tauhidullah, hingga mereka hanya ikrar  terhadap tauhid rububiyyah saja tanpa tauhid uluhiyah, menyebabkan mereka terjerumus dalam peribadatan kepada selain Allah.

________________________________________

Hadits ini dikeluarkan oleh bukhari 6/256; muslim194; dan  juga diriwayatkan oleh attirmidzi dan lain-lain
Laa ilaaha: nafi, illallah: itsbat. Maksud semata-semata bererti menolak  adanya sesembahan (ilah) secara mutlak , tentu saja ini adalah batil . Sedangkan “itsbat” semata-mata juga berarti masih mungkin mengandung penetapan adanya sesembahan lain selain Allah. Tentu  inipun batil (pen).
Lihat catatan kaki dari kitab At-Ta`liqat `Ala Kitab Kasyfisy Syubuhat li Syaikhil Islam Muhammad bin Abdul Wahab, yang dita`liq oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Lihat Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid
Pengertian tauhid rububiyyah ialah meyakini bahwa hanya Allah-lah satu-satunya  Pencipta, Penguasa dan Pengatur segenap urusan.
Pengertain tauhid uluhiyyah adalah : meyakini dan melaksanakan peribadatan  hanya kepada Allah semata, yakni dengan cara tidak melakukan peribadatan kepada selain Allah. selanjutnya perlu diketahui bahwa pembagian tauhid menjadi tauhid rububiyah, tauhid uluhiyyah dan tauhid asma` wa shifat adalah berdasarkan  tatabbu` (penelitian) yang dilakukan oleh para ulama Islam rahimahullah ketika berbagai macam kemusyrikan bermunculan. (Diambil dari Syarh Kitab at Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dan  Syarh Kitab At Tauhid wa  Ar Raad ‘ala Al Jahmiyyah Min Shahih al Bukhari, karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab juga.

Syaikh  Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata : “jika anda telah mengerti  apa yang telah aku katakan dengan pengertian yang meresap ke dalam hati,. Telah mengerti arti syirik yang telah dinyatakan oieh Allah Subhanahu Wa  Ta`ala dalam firman-Nya (yang artinya):
Sesungguhnya  Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa selain dari  (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan  Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar (An-Nisa’: 48)

Telah mengerti pula din (agama) Allah yang dibawa oleh para rasul dari rasul yang  paling pertama hingga rasul terakhir, dan telah mengerti pula kebodohan yang  dialami oleh kebanyakan orang tentang ini, maka semua pengertian anda itu  akan memberi dua faidah kepada anda:
Pertama:
Kegembiraan karena mendapat karunia serta Allah sebagaimana firman-Nya (yang  artinya):
Katakanlah:  “Dengan karunia Allah dan rahmad-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.  Karunia Allah dan rahmad-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Yunus: 58).
Kedua:
Rasa takut yang besar sebab apabila anda telah memahami bahwa seseorang bisa  menjadi kafir disebabkan sebuah kalimat yang keluar dari mulutnya, sedangkan  ia mengucapkannya karena kebodohannya, padahal kalimat kufur tersebut tidak  termaafkan sebab kejahilannya itu, atau terkadang seseorang mengucapkan kata-kata  kufur sedangkan ia menyangka bahwa perkataannya itu merupakan perkataan yang  dapat mendekatkan dirinya kepada Allah seperti yang dilakukan oleh orang-orang  musyrik. Apalagi jika anda telah memahami berdasarkan petunjuk Allah   -kisah tentang (kebodohan) kaumnya Musa `alaihis salam yang berkata kepada beliau seraya berkata- padahal mereka adalah orang-orang shalih dan berilmu- :
“Buatkanlah  untuk kami sebuah sesembahan (berhala) sebagaimana sesembahan-sesembahan (berhala)  yang mereka miliki” (Al-A`raaf: 138)
Pada  saat ini (ketika anda telah memahami semua ini –pen), maka rasa takut anda  akan menjadi sangat besar dan semangat anda untuk membersihkan diri dari hal-hal  semacam di atas pun menjadi besar pula.
Maksudnya  apabila anda telah memahami semua perkataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab  di atas, anda telah memahami makna kalimat “la ilaha illallahu” dengan sebenar-benarnya dan anda telah mengerti kebodohan banyak orang terhadap kalimat tersebut, baik kebodohan yang bersifat sederhana maupun kebodohan yang keterlaluan.  Maka pemahaman anda itu akan memberi anda dua faidah besar buat anda:

Pertama:
Kegembiraan karena anda mendapat karunia Allah. Hal ini karena dua sisi nikmat  sebagai berikut:

Bahwa Allah telah membukakan dan menganugrahkan pemahaman kepada anda  hingga anda dapat memahami makna yang benar dari `la ilaha illallahu’
Bahwa anda telah terselamatkan dari kesesatan kebanyakan orang disebabkan  kesalahan mereka dalam memahami kalimat tersebut.

Kegembiraan  semacam ini yang termasuk diperintahkan Allah dalam firman-Nya (yang artinya:) 
Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmad-Nya, hendaklah dengan itu  mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmad-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Yunus: 58).


Sementara  itu kegembiraan seseorang karena mendapat nikmat Allah adalah ibadah, dan  kegembiraan ini termasuk hal yang terpuji seperti yang diterangkan dalam sebuah hadits (yang artinya) :
Orang-orang  yang berpuasa memiliki dua kegembiraan, satu kegembiraan di saat berbuka,  dan satu kegembiraan lagi disaat bertemu dengan Rabbnya (dikeluarkan oleh Bukhari: 4/144- Fathul Bari dan Muslim : 8/278)
Rasa takut yang amat besar apabila anda sampai jatuh ke dalam kekufuran kaum musyrikin.  Sebab seseorang terkadang mengucapkan kata-kata kufur, padahal kekufuran tersebut tidak termaafkan hanya karena ketidak mengertiannya bahwa itu kufur. Maka  jadilah ia orang yang kafir karena kata-kata yang diucapkannya itu sebagaimana  telah diterangkan dalam sebuah hadits (yang artinya)
“Sesunggunhnya seseorang berkata dengan suatu kalimat berupa kebencuan terhadap Allah, ia menganggap perkataannya itu tidak mengapa, tetapi dengannya ia terhempas ke dalam neraka  (jauhnya) begini dan begini (dalam riwayat lain: (jauhnya/dalamnya) sejauh timur dan barat)(dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Fathul bari: 11/314, dan  Muslim hadits no. 17/117 dan lain-lain)
Kita  memohon kepada Allah agar kita menjadi orang-orang yang selamat.
Selanjutnya  Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengingatkan agar hendaknya seorang muslim  merasa takut bila dirinya memiliki persangkaan seperti yang dilakukan oleh kaum musyrikin berkenaan dengan makna tauhid; yaitu bahwa tauhid dipahami sebagai: “Hanya Allah-lah satu-satunya Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur”.  Oleh karena itu beliau mengingatkan agar hendaknya manusia terus-menerus takut, kemudian disusul dengan selalu mengingat kisahnya kaum nabi Musa `alaihis salam ketika mereka berkata kepada Musa (yang artinya)
“Buatkanlah untuk  kami sebuah sesembahan (berhala) sebagaimana sesembahan-sesembahan (berhala)  yang mereka miliki” (Al-A’raaf: 138)
Musa  menjawab (yang artinya):
“Sesungguhnya  kalian ini orang-orang yang bodoh”
” Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan  batal apa yang mereka kerjakan” (Al-A’raaf: 139)
Jadi dalam ayat diatas, Musa menjelaskan bahwa permintaan kaumnya agar Musa membuatkan  berhala sebagaimana kaum musyrikin mempunyai berhala-berhala merupakan suatu kebodohan. Maka kalau peristiwa itu diingat, niscaya akan menimbulkan rasa takut di hati seseorang apabila dirinya sampai terjatuh ke dalam kesesatan  serta kejahilan karena berprasangka bahwa makna `la illaha illallahu’ adalah “tidak ada Pemberi rizki, Pencipta dan pengatur kecuali Allah.
Itulah  dia yang dingatkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan yang banyak dialami  oleh orang-orang ahlul kalam, yaitu orang-orang yang banyak bicara berdasarkan logika tentang Tauhid   Rububiyah. Mereka beranggapan bahwa `la illaha illallahu adalah “ tiadaPencipta dan tidak ada Yang Maha Kuasa untuk  mencipta kecuali Allah”
Meraka  menafsiri kalimat yang agung ini dengan pebafsiran yang salah dan batil, penafsiran  yang tidak perbah dikenal seorangpun di kalangan kaum muslimin, bahkan orang-orang musyrik arab  dahulunya tidak dikenal penafsiran ini, bahkan orang-orang musyrik Arab dahulu jeuh lebih memahami kaliamt “la illaha illallahu”  dibandingkan  dengan orang-orang ahlu ilmu kalam.
Syaikh  Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah selanjutnya berkata: “Ketahilah bahwa  dengan hikmah-Nya, Allah subhanahu wata’ala tidak mengutus seorang nabipun untuk membawa tauhid ini, melainkan Dia ciptakan musuh-musuh yang menentang nabi-Nya tersebut, sebagaimana firman  Allah (yang artinya):
Dan  demikian kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari  jenis)  manusia dan(dari jenis) Jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabb-mu menghendaki, niscaya mereka tidak  mengerjakannya,  maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan (al-An’am: 122)
Dan  tidak jarang  musuh-musuh nabi Allah itu memiliki banyak ilmu, banyak  kitab dan banyak hujjah, seperti yang dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya  (yang artinya):
Maka  tatkala datang kepada mereka rasul-rasul ( yang diutus kepada) mereka dengan  membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang  ada pada mereka….(al-Mu’min:83)
Disini  Rahimahullah mengingatkan adanya satu pelajaran besar, yakni satu diantara  hikmah Allah Ta’ala yaitu bahwa setiap kali Dia mengutus nabi-Nya, maka Dia ciptakan pula musuh-musuh penentangnya yang terdiri dari manusia dan jin.
Adanya  musuh ini berguna untuk menyaring dan memperjelas kebenaran, sebab setiap  kali ada penentang, maka hujjah (bukti kebenaran ) nabi pun akan semakin kuat. Sebaliknya, apabila nabi diutus demikian saja tanpa penentang, akhirnya kebenaran (al haq) yang menjadi misinya tidak akan menjadi jelas, justru dengan adanya  penentang itulah akan tejadi penentangan yang bakal mempertegas dan memperjelas al-haq.
Rintangan  yang ditetapkan oleh Alah untuk para nabi-Nya ini juga ditetapkan bagi para  pengikut mereka. Setiap para pengikut nabi pasti akan menghadapi penentang atau musuh-musuh seperti apa yang pernah dihadapi oleh para nabi, sebagaimana dinyatakan oleh Allah dalam surat al-An’am ayat 112 diatas.
Juga   firman Allah (yang artinya) 'Dan  seperti itulah, telah Kami adakan bagi  tiap-tiap nabi, musuh dari   orang yang berdosa. Dan cukuplah Rabbmu menjsadi pemberi petunjuk dan penolong'
Renungkanlah firman Allah pada ayat diatas yang artinya berbunyi: Cukuplah  Rabb-mu menjadi pemberi petunjk dan penolong”
Kalau ayat diatas diperhatikan, orang-orang yang berdosa (penjahat) yang memusuhi  para nabi itu, melakukan permusuhannya kepada para rasul melalui dua jalan;

Peragu-raguan (tasykik)
Permusuhan.

Adapun yang berkenaan dengan jalur tasykik (peragu-raguan), maka untuk mengatasinya  Allah Ta’ala telah berfirman yang artinya: “Cukuplah  Rabb-mu menjadi pemberi petunjuk dan penolong “
Jadi Allah Ta’ala pasti senantiasa memberi petunjuk kepada para rasul dan para  pengikut-pengikutnya, dan pasti senantiasa memberi pertolongan kepeda mereka  untuk mengalahkan musuh-musuhnya sekalipun musuh itu merupakan musuh yang paling kuat.
Disamping  itu yang paling penting untuk diketahui ialah, bahwa seringkali musuh-musuh  para rasul itu memiliki ilmu yang banyak, hingga dengan imunya mampu menjadikan kebenaran dan kebatilan kabur di mata manusia. Seperti yang dijelaskan dalam firman Allah (Q.S al-Mu’min:83) (yang artinya) :
Maka  tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mmereka dengan  membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh adzab Allah yangb selalu mereka perolok-olokkan itu.
Kegembiraan (kebanggaan)yang termaktub dalam ayat ini jelas tercela, sebab ia merupakan  kegembiraan yang tidak diridhai oleh Allah. Yang jelas berdasarkan ayat ini, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ingin menunjukkan agar seyogyanya setiap muslim mengetahui bahwa banyak diantara musuh Allah yang memiliki ilmu. Dengan  pengetahuan ini, seorang muslim hendaknya bersiap diri menggalang bekal untuk menghadapi mereka.
Begitu  pula petunjuk yang diberikan  rasul shallallahu `alaihi wa  sallam  ketika beliau mengutus  Mu’adz  ke Yaman. Beliau bersabda (yang artinya) :
Sesungguhnya kamu akan datang kepada suatu kaum dari kalangan ahli kitab (Bukhari  7/661  dan Muslim : no. 19).
Artinya:  Nabi menginginkan agar Mu’adz bersiap-siap menghadapi mereka  yang tentunya  banyak memiliki hujah, karena mereka adalah ahlul kitab.
Selanjutnya  Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan: “bila anda telah mengerti semua  itu dan telah memahami bahwa jalan menuju Allah itu pasti dihadang oleh musuh yang ahli bicara, ahli ilmu dan pandai berhujjah, maka kewajiban anda ialah mempelajari dinullah (secara baik) supaya nanti bisa menjadi senjata yang  akan anda gunakan untuk memerangi para syaitan yang dedengkotnya dahulu pernah berkata kepada Allah (berisi ancaman bagi hambanya pen.) yaitu (yang artinya):
Iblis  menjawab karena engkau telah menghukum saya tersebut, saya benar-benar akan  (menghalang-halangi) mereka dari jalan engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka dari kanan dan kiri mereka. Dan engkau tidak akan mendapati mereka bersyukur(taat) (al-A’raf: 16-17).
Tetapi manakala anda telah menghadapkan muka wajah anda kepada Allah, dan telah mendengarkan  hujjah-hujjah dan penjelasan Allah maka anda tak perlu lagi merasa takut dan sedih, (sebab) Allah Ta’ala telah berfirman (yang artinya):
Sesungguhnya  tipu daya syaitan adalah lemah. (An-Nisa’: 76)
Yakni apabila anda telah memahami bahwa musuh-musuh Allah tersebut mempunyai banyak  kitab dan ilmu pengetahuan yang dengannya bisa digunakan untuk merancukan antara hak dan batil maka anda harus bersiap sedia menghadapi mereka dengan dua hal :
Pertama:  seperti diisyaratkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, anda harus memiliki  hujjah syar’iyyah dan aqliyah agar bisa melibas hujjah serta kebatilan mereka.
Kedua: Anda harus mengenal kebatilan mereka, supaya anda dapat mengalahkan mereka.
Selanjutnya, seorang muslim tidak perlu takut menghadapi   hujjah-hujjah mereka (para   musuh tauhid), karena hujjah mereka adalah batil dan itu  merupakan tipu daya setan,sedangkan tipu daya setan itu lemah.
Selanjutnya  Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menegaskan bahwa seorang awam dari kalangan  orang yang bertauhid akan mampu mengalahkan seribu ulama musyrikin itu,dasarnya adalah firman Allah  Ta’ala (yang artinya):.
”Dan  sesungguhnya tentara   Kami,betul-betul pasti menang. (Ash-Shaffat: 173).
Yang dimaksudkan  dengan satu orang awam dari kalangan orang-orang bertauhid adalah orang yang  mengikrarkan tauhid  dengan segenap macamnya yang tiga, yaitu tauhid Rububiyah  Asma’ was-sifat serta Uluhiyah.(Orang  awam menurut pandangan kaum tarekat sufiyah adalah orang yang seperti disebutkan oleh syaikh  Muhammad bin Abdul Wahab ini, yaitu orang yang mengikrarkan tiga Tauhid :Uluhiyah, Rububiyah dan asma’ was-sifat. Sebab  menurut mereka: tauhid terbagi menjadi tiga peringkat diantaranya (peringkat yang paling rendah): tauhidnya orang-orang awam, yaitu tauhidnya orang yang mengikrarkan tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan Asma’ Was-Sifat 1)
Orang  awam yang bertauhid ini pasti akan mampu mengalahkan seribu ulama musyrikin,  sebab ulama musyrikin tersebut tidak sempurna dalam mentauhidkan Allah, mereka  hanya mentauhidkan Rububiyah Allah saja.
Mengimani  tauhid rububiyah semata jelas tidak benar, bahkan pada hakekatnya itu  bukanlah tauhid yang sebenarnya. Buktinya Nabi Shalallahu `Alaihi Wa Sallam telah telah memerangi musyrikin yang secara rububiyah telah mentauhidkan  Allah, namun tauhid semacam ini tidak berguna dan tidak menyebabkan darah    serta harta mereka terpelihara
Dengan  demikian satu orang awam dari kalangan awam dari kalangan orang yang bertauhid  masih lebih baik dari mereka. Karena itulah Allah Ta’ala berfirman (yang artimya):
“Dan  sesungguhnya tentara kami betul-betul akan menang”(Ash-Shaffat: 173)
(Jadi orang awam yang bertauhid itu masih merupakan tentara Allah -pen), Tentara  Allah ini menang berdasarkan hujjah serta penjelasannya sebagaimana ia juga menang dengan pedang serta anak panahnya. Tentara Allah berjihad fi sabilillah dengan dua cara:
Pertama: Dengan hujjah dan penjelasan; hal ini dilancarkan katika menghadapi kaum munafiqin,  orang-orang yang menyembunyikan permusuhan kepada kaum muslimin.
Kedua: berjihad dengan pedang dan anak panah. Ini dilancarkan kepada orang-orang  kafir yang secara terang-terangan menyatakan kekufuran dan permusuhannya.
Dua  bentuk jihad ini sesuai denga firman Allah  (yang artinya):
Maka  mereka merasakan akibat yang buruk akibat perbuatannya, dan akibat perbuatan mereka kerugian yang besar.  (Ath-Thalaq: 9)
Terkadang  jihad dengan hujjah dan penjelasan juga dilakukan kepad kaum kuffar yang terang-terangan  menyatakan kekafirannya, sebab orang-orang kafir terseb ut tidak diperangi dengan pedang sebelum tegak alasan untuk itu (belum ada hujjah untuk itu atas mereka).
Jundullah (tentara Allah) adalah hamba-hamba Allah yang membela Allah dan rasul-Nya.  Akhirnya Syaikh rahimahullah mengingatkan bahwa yang dikhawatirkan adalah apabila ada seorang  yang bertauhid tetapi ia tidak memiliki kesiapan
senjata (hujjah), hingga dikhawatirkan ia akan kalah manakala menghadapi hujjah  lawan sehingga menimbulkan fitnah.
Oleh  karena itula seyogyanya setiap muslim yang bertauhid senantiasa siap sedia  mempersenjatai dirinya dengan ilmu agamanya yang mapan. Wallahu `alamu bish-shawab.
________________________________________
[1] Lihat catatan kaki Ta’liqat `Ala Kitab Kasyfusy Syubhat, hal: 27.
Disadur dari At-Ta’liqot `Ala Kitab Kasyfisy-Sybhat Li Syaikhul Islam Muhammad  bin Abdul Wahhab, ta’liq syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hal:  20-28. by salfyoon.net.Dakwah Tauhid: Dakwah Pengikut Nabi yang Hakiki17 Mei 2009 6:58
www.muslim.or.id


Tauhid adalah inti dakwah para Rasul, dari Rasul yang pertama sampai rasul yang terakhir. Alloh berfirman, “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Alloh saja, dan jauhilah Thaghut’.” (An Nahl: 36)

Kaum muslimin sekalian, mereka tidaklah mendakwahi ummatnya dengan menekankan perbaikan ekonomi terlebih dahulu, tidaklah pula dengan merebut kekuasaan para penguasa yang zhalim terlebih dahulu dan mendirikan daulah islamiyah. Padahal kita semua tahu bahwa para rasul tersebut diutus di tengah-tengah masyarakat yang penguasanya amat zholim. Namun pokok dakwah mereka adalah perbaikan akidah ummat dan membersihkannya dari segenap kotoran syirik.


Kewajiban Berdakwah Sebagaimana Dakwah Nabi
Alloh Ta’ala berfirman, “Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Alloh, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik’.” (Yusuf: 108). Dari ayat yang mulia ini, kita tahu bahwa pengikut Rosululloh yang hakiki adalah mereka yang berdakwah sebagaimana Rosululloh shollallohu ‘alaihi wassalam berdakwah. Tidaklah hal pertama dan utama yang Rosululloh shollallohu ‘alaihi wassalam dakwahkan kecuali tauhid, maka penyeru yang sejati ialah mereka yang menyerukan kepada tauhid. Sedangkan orang-orang yang menyimpang dari jalan ini disinyalir oleh Alloh Azza wa Jalla dalam firmanNya: “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh agar kamu bertakwa.” (Al-An’am: 153)

Tauhid Adalah Poros Perbaikan Ummat

Kaum muslimin sekalian, dakwah perbaikan ummat manusia yang diserukan oleh para Rasul itu adalah dakwah Tauhid, memerangi syirik, yang mana kesyirikan adalah suatu kemungkaran dan kezhaliman yang paling besar di muka bumi ini. Dan tauhid yang diserukan oleh para nabi dan Rasul adalah Tauhid Uluhiyah, yaitu mentauhidkan/mengesakan Alloh dalam ibadah, artinya memurnikan dan memperuntukkan ibadah hanyalah untuk Alloh semata, bukan untuk yang selain Alloh. Di sinilah letak dimana mereka paling banyak ditentang dan diingkari oleh kaumnya. Alloh Azza wa Jalla berfirman: “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Alloh (saja), dan jauhilah Thaghut itu’, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Alloh dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An-Nahl: 36)

Dakwah Tauhid Adalah Dakwah Rinci

Dakwah tauhid bukan dakwah global yang hanya menyeru: ‘Mari bertauhid!’, akan tetapi dakwah yang mulia ini juga memerinci manakah yang termasuk tauhid dan manakah yang termasuk syirik. Sehingga dengan tertanamnya hal ini pada masyarakat kaum muslimin maka tujuan penciptaan manusia dan jin dapat terwujud.

Alloh Ta’ala telah berfirman: “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Alloh, padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 21-22)

Maka dengan demikian wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari tauhid yang merupakan awal yang harus dia tuntut kemudian direalisasikan dalam ibadahannya. Dan juga mempelajari tentang syirik yang merupakan lawan dari tauhid dan macam-macam syirik untuk dijauhi dan agar tidak terjerumus ke dalam kesyirikan. Karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Alloh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An-Nisa’: 48)

Manakala tauhid merupakan pokok keselamatan dunia dan akhirat sekaligus hal pertama kali yang harus dipelajari oleh manusia, maka tauhidlah yang mestinya disampaikan dan didakwahkan kepada manusia pertama kali. Selain itu dakwah tauhid juga harus dijadikan sebagai proiritas utama sebagaiman dakwah para Rasul Alloh yang diutus untuk ummatnya dan juga apa yang telah telah Alloh perintahkan. Alloh Azza wa Jalla berfirman: “Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Alloh, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik’.” (Yusuf: 108)

Kuantitas Pengikut Bukanlah Barometer Keberhasilan Dakwah

Sidang pembaca sekalian, kita lihat dari siroh rosul bahwa Rosululloh Muhammad shollallohu ‘alaihi wassalam ketika berdakwah selama tiga belas tahun lamanya hanya menyerukan tauhid kepada bangsa Arab, khususnya kaum Quraisy di Mekkah. Rentang waktu ini begitu sangat panjang dilihat dari masa kenabian beliau. Perjalanan dakwah beliau inipun diiringi dengan rintangan yang luar biasa besar. Siksaan kaum Quraisy terhadap para pengikut beliau sangat gencar, sementara kaum muslimin pada waktu itu masih berjumlah sedikit dan tidak punya daya kekuatan untuk melawannya.

Dakwah ini memang membutuhkan waktu yang panjang dan lama untuk memetik hasilnya, tapi justru hal itulah yang dituntunkan oleh syari’at Islam. Kita tidak akan ditanya oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala di akhirat kelak: Berapa jumlah pengikut yang berhasil kita rekrut? tetapi yang akan ditanyakan adalah: Sudahkah kita menyampaikannya kepada manusia sebagaimana diperintahkan? Sama saja bagi kita, apakah mendapat pengikut ataukah tidak, selama dakwah kita sesuai dengan tuntunan sesuai syariat maka itulah wujud keberhasilan dakwah yang sebenarnya.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa ketika mi’raj, Alloh menunjukkan kepada Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wassalam para nabi dan rasul sebelum beliau beserta pengikutnya. Ada nabi yang hanya memiliki beberapa orang pengikut, dan bahkan ada yang tidak mempunyai seorang pengikut pun. Dan tatkala kita menengok sejarah nabi Nuh, berapa lama beliau berdakwah? Yaitu selama sembilan ratus lima puluh tahun. Berapakah jumlah pengikut beliau yang berhasil didakwahi yang akhirnya ikut dalam bahtera dan diselamatkan dari adzab Alloh? Tidaklah banyak, hanya sedikit jumlahnya. Mereka para rasul adalah orang-orang yang sukses dalam berdakwah, walaupun jika dilihat dari jumlah pengikut amatlah sedikit.

Lihatlah sejarah perjalanan panjang dakwahnya para nabi dan Rasul, jika kita menelusuri jejak para nabi niscaya kita dapatkan cobaaan kita lebih kecil dibandingkan ujian yang diperoleh oleh para nabi dan Rasul tersebut berupa penentangan dan pengingkaran dari kaumnya, belum lagi kesabaran yang luarbiasa yang mereka miliki untuk mendakwahkan tauhid di tengah-tengah kerusakan ummatnya.

Karena itulah nabi kita Muhammad shollallohu ‘alaihi wassalam ketika mengutus utusan beliau untuk berdakwah ke daerah lain, selalu mewasiatkan agar tauhidlah yang pertama kali mesti didakwahkan, sebagaimana sabda beliau kepada Mu’adz bin Jabal ketika akan diutus ke negeri Yaman untuk berdakwah, beliau Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya kamu akan mendatangi satu kaum dari ahli kitab, maka hendaklah yang pertama kamu serukan kepada mereka adalah (agar mereka) bersaksi bahwasanya tiada Tuhan yang berhak untuk disembah melainkan Alloh.” (Diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari dan Imam Muslim), dan dalam satu riwayat dari Imam Al-Bukhari [dengan lafazh]: Agar mereka mentauhidkan Alloh (dalam beribadah kepadaNya). Wallohu a’lam.
***
Penulis: Shalih Abu Muhammad
Artikel www.muslim.or.id


Dalam Cahaya Ilmu dan Tauhid Para Salaf
26 Februari 2009 4:10
www.muslimah.or.id



Penulis: Ummu Asma’

Muraja’ah: Ustadz Abu Sa’ad

Sebagian besar umat Islam sekarang ini hatinya merasa takut dan gemetar melihat kemajuan dan kecanggihan teknologi yang dimiliki orang kafir. Gentar akan kehebatan dan kejeniusan mereka dalam hal IPTEK. Memang betapa silau rasanya mata kita melihat gemerlap kemajuan mereka, dan hal itu seringkali menggelitik sebagian di antara kita untuk jatuh bangun berlari mengejar “ketertinggalan” kita dari mereka. Maka berlomba-lomba kita belajar ilmu teknologi, kedokteran, kesehatan, pertanian, siang dan malam. Sayangnya, banyak yang jadi berlebih-lebihan dan beranggapan bahwa kemuliaan Islam akan diraih dengan menguasai ilmu-ilmu tersebut. Benarkah demikian?

Sesungguhnya kemuliaan itu memang tidak akan dapat tercapai tanpa ilmu. Namun ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu syar’i, sebab hakikat kemuliaan sejati adalah menurut pandangan Allah Ta’ala. Maka siapakah orang yang mulia dalam pandangan Allah? Orang yang paling mulia dalam pandangan Allah adalah orang yang berilmu dan dengan ilmunya tersebut ia beriman serta bertaqwa pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujaadalah: 11)

Juga firman Allah Ta’ala yang artinya:
“Kami tinggikan derajat orang-orang yang Kami kehendaki.” (QS. Yusuf: 76)

Syaikh Abdul Malik ar-Ramadhani menukilkan perkataan Imam Malik rahimahullah tentang ayat ini dalam kitabnya Sittu Duror: “Maksudnya, (Kami tinggikan derajat mereka) dengan ilmu.”

Syaikh Abdul Malik Ar-Ramadhani masih dalam kitab yang sama menceritakan sebuah hadist dari ‘Amir bin Watsilah bahwa Nafi’ bin Abdul Harits pernah bertemu dengan ‘Umar di ‘Usfan. Dan ‘Umar waktu itu mengangkatnya menjadi gubernur Makkah. ‘Umar lalu bertanya: “Siapakah yang engkau tugaskan sebagai wakilmu untuk mengawasi penduduk Wadi (Makkah)?” “Ibnu Abzi.” Jawab Nafi’. “Siapakah Ibnu Abzi itu?” ‘Umar bertanya. Nafi’ menjawab, “Dia adalah seorang budak kami yang telah dimerdekakan.” ‘Umar bertanya, “Apakah engkau menjadikan seorang mantan budak menjadi pemimpin mereka?” Nafi’ menjawab, “Dia adalah seorang yang menghafal kitabullah dan seorang alim dalam ilmu pembagian harta waris.” Lalu ‘Umar berkata, “Ketahuilah bahwa Nabi kalian telah bersabda ‘Sesungguhnya Allah mengangkat dengan kitab ini (Al-Qur’an) beberapa golongan dan dengannya pula Dia merendahkan yang lainnya.’” (diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya (816) serta Ibnu Majah (218))

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Ketahuilah bahwa tidak ada illah yang haq disembah melainkan Allah, maka mohonlah ampunan bagi dosamu.” (QS. Muhammad: 19)

Al-Imam Bukhari menjadikan ayat ini pada salah satu bab dalam kitab Shahih-nya. Beliau berkata “Bab Ilmu sebelum berkata dan berbuat”, kemudian beliau mengomentari ayat tersebut: “Maka Alloh Jalla Jalaluhu telah memulai dengan ilmu sebelum berucap dan beramal.”

Syaikh Abdul Malik Ar-Ramadhani rahimahullah juga telah menukilkan sebuah perkataan yang indah dari Al-’Alamah Ibnul Qayyim Al-Jauziah rahimahullah dalam kitabnya Sittu Duror:

“Kemuliaan ilmu itu tergantung pada apa yang dibahas, dan tidak ragu lagi bahwa ilmu yang paling mulia dan paling agung adalah ilmu bahwa Allah adalah Dzat yang tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Dia Rabbul ‘Alamin, yang menegakkan langit-langit dan bumi, Raja yang haq dan nyata, yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan dan jauh dari segala cacat dan kekurangan serta dari segala penyamaan dan penyerupaan dalan kesempurnaan-Nya. Juga tidak ragu lagi bahwa ilmu tentang Allah, tentang nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya serta perbuatan-Nya adalah ilmu yang paling mulia dan agung.”

Perkataan beliau tersebut menyiratkan bahwa ilmu yang paling utama adalah ilmu tentang tauhid, sebagaimana perkataan beliau selanjutnya:

“Dan ilmu tentang Allah merupakan pokok serta dasar pijakan semua ilmu. Bararangsiapa mengenal Allah, dia akan mengenal yang selain-Nya dan barangsiapa yang tidak mengenal Rabb-Nya, terhadap yang lain dia lebih tidak mengenal lagi.”

Mengapa ilmu tentang tauhid begitu penting 
kedudukannya menurut pandangan para ulama?

Syaikh Abdul Aziz bin Adullah bin Baz mengatakan dalam kitabnya Al-Ilmu wa Akhlaaqu Ahlih (edisi Indonesia: Ilmu dan Akhlak Ahli Ilmu):

Bukanlah tujuan berilmu itu agar engkau menjadi seorang ‘alim atau agar engkau diberi ijazah yang diakui dalam suatu bidang ilmu. Namun tujuan di belakang semua itu adalah supaya engkau beramal dengan ilmu yang engkau miliki, agar engkau mengarahkan manusia kepada kebaikan. Beliau menyebutkan:

Karena dengan ilmu-lah seseorang sampai pada pengetahuan tentang kewajiban yang paling utama dan paling agung, yaitu men-tauhid-kan Allah dan mengikhlaskan ibadah untuk-Nya. Sebagaimana sudah kita ketahui bahwa Islam didirikan atas lima dasar yang disebut rukun Islam, dan dasar yang pertama adalah syahadah Laa Ilaha illallah (tidak ada sesembahan yang haq selain Allah) yang melahirkan konsekuensi bagi yang mengucapkannya untuk beriman pada Allah dan hanya beribadah kepada-Nya. Allah berfirman dalam kitab-Nya yang artinya: “Sembahlah Allah olehmu sekalian, sekali-kali tidak ada sesembahan yang haq selain daripada-Nya. Maka, mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya).” (QS. Al-Mukminuun: 32)

Beribadah kepada Allah adalah tujuan utama hidup manusia di dunia ini, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya:

“Dan, Aku tidak menciptakan manusia dan jin melainkan untuk menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariat: 56)

Dalam beribadah terdapat dua syarat agar amal ibadah diterima, yaitu ikhlas dan sesuai petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang yang tidak memiliki ilmu tidak akan mengetahui bagaimana caranya ikhlas dan bagaimana beribadah sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Betapa banyak ahli ibadah yang terjerumus dalam bid’ah karena berlebih-lebihan dalam beribadah dengan menambah atau mengurangi ibadahnya padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya:

“Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya mengadakan hal yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Hadits Riwayat Abu Daud, dan At-Tirmidzi, hadits hasan shahih)

Demikian pula dengan realita bahwa sebagian umat Islam banyak yang terjerumus dalam kesyirikan. Apa yang menyebabkan terjadinya hal itu? Tidak lain adalah karena mereka tidak mengetahui mana yang sunnah dan mana yang bid’ah, mana yang tauhid dan mana yang syirik, dan semua itu tidak akan diketahui kecuali dengan belajar ilmu syar’i. Ilmu akan menunjukkan bagaimana tata cara ibadah yang benar dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serta menunjukkan pada pemahaman tauhid yang bersih dari syirik sebagaimana jalannya Rasulullah dan para shahabat sebagai sebaik-baik salaf bagi kita. Sesungguhnya kejayaan umat Islam akan dapat diraih dengan menjalankan agama ini, dan hal itu hanya akan diraih dengan ilmu syar’i. Wallahu a’lam.

Maraji’:
Sittu Duror karya Syaikh Abdul Malik Ar-Ramadhani
Ilmu dan Akhlak Ahli Ilmu karya Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Hukum Ramalan Bintang/Zodiak dalam Islam

25 Februari 2009 3:45
Ramalan Anda minggu ini:
Zodiak: Aquarius
Pekerjaan: Mulai menjalankan pekerjaan yang tertunda.
Asmara: Patah semangat dan jenuh.
Keuangan: Rezeki yang diperoleh ternyata tidak sebanding dengan usaha yang anda lakukan.

Ukhti muslimah yang semoga dicintai oleh Allah, tulisan kami di atas sama sekali bukan bermaksud untuk menjadikan website ini sebagai website ramalan bintang, akan tetapi tulisan di atas merupakan kutipan dari sebuah website yang berisi tentang ramalan-ramalan nasib seseorang berdasarkan zodiak. Ya, ramalan zodiak atau yang biasa dikenal dengan ramalan bintang sudah menjadi “gaya hidup” modern anak muda sekarang. Terlebih khusus lagi bagi para pemudi (bahkan muslimah). Namun, alangkah baiknya apabila kita meninjau ramalan bintang ini berdasarkan syariat islam.

Ramalan Bintang Termasuk Ilmu Nujum/Perbintangan

Zodiak adalah tanda bintang seseorang yang didasarkan pada posisi matahari terhadap rasi bintang ketika orang tersebut dilahirkan. Zodiak yang dikenal sebagai lambang astrologi terdiri dari 12 rasi bintang (Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius dan Pisces). Zodiak ini biasa digunakan sebagai ramalan nasib seseorang, yaitu suatu ramalan yang didasarkan pada kedudukan benda-benda tata surya di dalam zodiak (disarikan dari website Wikipedia). Dalam islam, zodiak termasuk ke dalam ilmu nujum/Perbintangan.

Ramalan Bintang Adalah Sihir

Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang mempelajari ilmu nujum berarti ia telah mempelajari cabang dari ilmu sihir, apabila bertambah ilmu nujumnya maka bertambah pulalah ilmu sihirnya.” (HR Ahmad dengan sanad hasan). Hadits ini dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa ilmu nujum (yang termasuk dalam hal ini adalah ramalan bintang) merupakan bagian dari sihir. Bahkan Rasulullah menyatakan bahwa apabila ilmu nujumnya itu bertambah, maka hal ini berarti bertambah pula ilmu sihir yang dipelajari orang tersebut. Sedangkan hukum sihir itu sendiri adalah haram dan termasuk kekafiran, sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (Qs. Al Baqarah: 102)

Ramalan Bintang = Mengetahui Hal yang Gaib

Seseorang yang mempercayai ramalan bintang, secara langsung maupun tidak langsung menyatakan bahwa ada zat selain Allah yang mengetahui perkara gaib. Padahal Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa tidak ada yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Dia. Allah berfirman yang artinya: “Katakanlah: Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (Qs. An Naml: 65). Dalam ayat lain, Allah menegaskan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi besok, sebagaimana firmanNya yang artinya “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. Luqman: 34). Klaim bahwa ada yang mengetahui ilmu gaib selain Allah adalah kekafiran yang mengeluarkan dari islam.

Ramalan Bintang = Ramalan Dukun

Setiap orang yang menyatakan bahwa ia mengetahui hal yang gaib, maka pada hakikatnya ia adalah dukun. Baik dia itu tukang ramal, paranormal, ahli nujum dan lain-lain. (Mutiara Faidah Kitab Tauhid, Ust Abu Isa Hafizhohullah) Oleh karena itu, ramalan yang didapatkan melalui zodiak sama saja dengan ramalan dukun. Hukum membaca ramalan bintang disamakan dengan hukum mendatangi dukun. (Kesimpulan dari penjelasan Syeikh Shalih bin Abdul Aziz Alu syaikh dalam kitab At-Tamhid).

Hukum Membaca Ramalan Bintang

Orang yang membaca ramalan bintang/zodiak baik itu di majalah, koran, website, melihat di TV ataupun mendengarnya di radio memiliki rincian hukum seperti hukum orang yang mendatangi dukun, yaitu sebagai berikut:

Jika ia membaca zodiak, meskipun ia tidak membenarkan ramalan tersebut. maka hukumnya adalah haram, sholatnya tidak diterima selama 40 hari. Dalilnya adalah “Barangsiapa yang mendatangi peramal, lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari.” (HR. Muslim)

Jika ia membaca zodiak kemudian membenarkan ramalan zodiak tersebut, maka ia telah kufur terhadap ajaran Muhammad Shallahu alaihi wasallam. Rasulullah bersabda “Barang siapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka ia telah kufur dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Shallahu alaihi wasallam.” (Hadits sahih Riwayat Imam Ahmad dan Hakim).

Jika ia membaca zodiak dengan tujuan untuk dibantah, dijelaskan dan diingkari tentang kesyirikannya, maka hukumnya terkadang dituntut bahkan wajib. (disarikan dari kitab Tamhid karya Syeikh Shalih bin Abdul Aziz Alu syaikh dan Qaulul Mufid karya Syeikh Utsaimin dengan sedikit perubahan).


Shio, Fengshui, dan Kartu Tarot

Di zaman modern sekarang ini tidak hanya zodiak yang digunakan sebagai sarana untuk meramal nasib. Seiring dengan berkembangnya zaman, ramalan-ramalan nasib dalam bentuk lain yang berasal dari luar pun mulai masuk ke dalam Indonesia. Di antara ramalan-ramalan modern impor lainnya yang berkembang dan marak di Indonesia adalah Shio, Fengshui (keduanya berasal dari Cina) dan kartu Tarot (yang berasal dari Italia dan masih sangat populer di Eropa). Kesemua hal ini hukumnya sama dengan ramalan zodiak.

Nasib Baik dan Nasib Buruk

Ukhti muslimah yang semoga dicintai oleh Allah, jika ukhti renungkan, maka sesungguhnya orang-orang yang mencari tahu ramalan nasib mereka, tidak lain dan tidak bukan dikarenakan mereka menginginkan nasib yang baik dan terhindar dari nasib yang buruk. Akan tetapi, satu hal yang perlu kita cam dan yakinkan di dalam hati-hati kita, bahwa segala hal yang baik dan buruk telah Allah takdirkan 50 ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi, sebagaimana Nabi bersabda “Allah telah menuliskan takdir seluruh makhluk 50 ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim). Hanya Allah yang tahu nasib kita. Yang dapat kita lakukan adalah berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkan hal yang baik dan terhindar dari hal yang buruk, selebihnya kita serahkan semua hanya kepada Allah. Allah berfirman yang artinya “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Qs. Ath Thalaq: 3). Terakhir, ingatlah, bahwa semua yang Allah tentukan bagi kita adalah baik meskipun di mata kita hal tersebut adalah buruk. Allah berfirman yang artinya “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah: 216). Berbaik sangkalah kepada Allah bahwa apabila kita mendapatkan suatu hal yang buruk, maka pasti ada kebaikan dan hikmah di balik itu semua. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih dan Maha Adil terhadap hamba-hambaNya.

***
Penulis: Abu ‘Uzair Boris Tanesia
Muroja’ah: Ust Ahmad Daniel, Lc.
(Alumni Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia. Sekarang dosen di STDI Imam Syafi’i Jember)
Artikel www.muslimah.or.id


Membongkar Kedok Dukun Berlabel Ustadz
/Kyai25 Februari 2009 3:33http://www.perpustakaan-islam.com

Metode ini nampaknya tidak penting. Namun sengaja kami kemukakan, karena sebagian kaum muslimin banyak yang tidak bisa membedakan antara penyembuhan secara Qurani dengan penyembuhan secara sihir.


Ada cukup banyak cara dan sangat bervariatif, yang semuanya mengandung kesyirikan atau kekufuran nyata. Dan Insya Allah, kami akan menyebutkan sebagian di antaranya, yakni delapan cara yang disertai dengan jenis kesyirikan atau kekufuran yang terkandung pada setiap cara tersebut secara ringkas. Hal ini sengaja kami kemukakan, karena sebagian kaum muslimin banyak yang tidak bisa membedakan antara penyembuhan secara Qurani dengan penyembuhan secara sihir. Yang pertama adalah cara imani ( keimanan ) dan yang kedua cara syaithani ( atas petunjuk syaitan ). Dan masalahnya akan semakin kabur bagi orang-orang tidak berilmu, di mana tukang sihir itu membacakan mantra dengan pelan sementara dia akan membaca ayat Al Qur’an dengan kencang dan terdengar oleh pasien sehingga pasien itu mengira bahwa orang itu mengobatinya dengan menggunakan ayat-ayat Al Qur’an, padahal kenyataannya tidak demikian. Sehingga si pasien itu akan menerima perintah tukang sihir sepenuhnya.
Dan tujuan dari penyampaian dan penjelasan cara ini adalah untuk memperingatkan kaum muslimin agar mereka berhati-hati terhadap berbagai jalan kejahatan dan kesesatan, dan agar tampak jelas jalan orang-orang yang berbuat kejahatan.

Cara iqsam (bersumpah atas nama jin dan syaitan)
Cara adz-dzabh, yaitu dengan cara menyembelih binatang untuk dipersembahkan kepada jin dan syaitan.
Cara sufliyah, yaitu menempelkan ayat-ayat Al Qur’an atau hadits di bagian bawah kaki.
Cara najasah, yaitu menulis ayat-ayat Al Qur’an dengan benda yang najis.
Cara tankis, yaitu dengan cara berkomunikasi dengan bintang –bintang.
Cara al-kaff, yaitu melihat melalui telapak tangan.
Cara al-atsar, yaitu dengan menggunakan benda bekas dipakai.

Beberapa Tanda yang Dapat Dijadikan Barometer untuk Mengenali Tukang Sihir
Jika anda mendapatkan satu tanda dari tanda-tanda berikut ini pada orang-orang yang melakukan pengobatan, maka tidak diragukan lagi dia adalah seorang tukang sihir. Berikut ini tanda-tanda tersebut :

Menanyakan nama si pasien dan nama ibunya.
Meminta salah satu dari beberapa benda bekas dipakai si pasien
(baik itu baju, topi, sapu tangan, atau kaos).

Terkadang meminta hewan dengan kriteria tertentu untuk disembelih dengan tidak menyebut nama Allah padanya, dan terkadang darah binatang sembelihan itu dioleskan pada beberapa tempat penyakit yang dirasakan oleh pasien atau melempar binatang itu ke tempat puing-puing bangunan.

Penulisan mantra-mantra tertentu.
Membaca jimat-jimat dan mantra-mantra yang tidak dapat dipahami.
Memberi suatu pembatas yang terdiri dari empat persegi kepada pasien, yang di dalamnya terdapat huruf-huruf atau angka-angka.
Dia menyuruh pasien untuk mengurung diri dari orang-orang untuk waktu tertentu di suatu ruangan yang tidak dimasuki sinar matahari, yang kaum awam menyebutnya dengan hijbah.
Terkadang si penyihir itu menyuruh pasien untuk tidak menyentuh air untuk waktu tertentu, yang paling sering selama empat puluh hari. Dan tanda itu menunjukkan bahwa jin yang melayaninya adalah beragama Nasrani.

Memberi beberapa hal kepada pasien untuk ditimbun di dalam tanah.
Memberi pasien beberapa kertas untuk dibakar dan mengeluarkan asap.
Berkomat-kamit dengan kata-kata yang tidak dapat dipahami.
Terkadang si penyihir memberitahu pasien nama dan kampung halaman pasien tersebut serta permasalahan yang akan dikemukakannya.

Si penyihir juga menuliskan untuk pasien beberapa huruf terputus-putus di sebuah kertas ( jimat ) atau di lempengan tembikar putih, lalu menyuruh pasien melarutkan dan meminumnya.

Jika anda mengetahui bahwa seseorang adalah tukang sihir, maka hindarilah dan janganlah Anda mendatanginya, dan jika tidak, maka Anda termasuk dalam sabda Nabi: “Barangsiapa mendatangi seorang dukun, lalu dia membenarkan apa yang dikatakannya, berarti dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.’’ ( diriwayatkan oleh Al Bazzar, dengan beberapa penguatnya, hadits ini hasan dan diriwayatkan juga oleh Ahmad dan Al Hakim, dishahihkan oleh Al Albani : lihat Shahihul Jaami’ (no. 5939).

***
 
Di mulai dari yang terpenting 
Sebuah Pembahasan Tentang Makna  Laa Ilaha Illallah  dan Konsekuesinya
23 Februari 2009 8:22
Oleh : Abu Ibrahim Abdullah Bin Mudakir Al – Jakarty

Wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari ilmu agama ini, terutama hal – hal yang dengan ilmu tersebut seseorang bisa menegakkan agamanya,  Imam Ahmad pernah ditanya tentang apa yang diwajibkan atas seorang hamba untuk mempelajarinya, berkata Imam Ahmad Rahimahullah : ” Ilmu yang dengan nya seseorang bisa menegakkan agamanya, ditanyakan kepada beliau seperti apa,? beliau menjawab ilmu  yang seseorang tidak boleh  bodoh darinya, seperti sholat, zakat, dan shoum (puasa) dan yang semisalnya.” ( Silahkan lihat Kitab Al-Furuq, Ibnu Muflih 1/525, Hasiyah Al – Ushulus Tsalasah Ibnul Qasim )

Sebelum itu ada kewajiban yang paling agung yang kita harus memahami dan mempelajarinya yaitu tauhid, kewajiban yang terpenting dari yang terpenting lainnya, berkata Syaikh Sholeh Al-Fauzan Hafidzahullah : ” Dan (mempelajari tauhid) perkara yang sangat penting, mempelajari atau memahami tauhid lebih ditekankan atas kamu dari mengetahui hukum sholat, zakat, ibadah-ibadah dan seluruh perkara agama lainnya. Dikarenakan mempelajari perkara ini adalah yang pertama dan pondasi, dikarenakan sholat, zakat,  haji, dan selainnya dari ibadah-ibadah tidaklah sah apabila tidak dibangun atas dasar aqidah yang benar dan itulah tauhid yang murni untuk Allah Azza wajalla “ ( Syarh Qawaidul ‘Arba : 6 )

Dan diantara materi tauhid yang paling agung adalah penjelasan tentang makna Laa Ilaha Illallah, bahkan kalimat َ Laa Ilaha Illallah adalah tauhid itu sendiri. Dan pengetahuan tentang makna Laa Ilaha Illallah adalah kenikmatan yang sangat agung, sebagaimana yang dikatakan oleh Sufyan Bin Uyainah Rahimahullah : ” Tidaklah Allah memberi nikmat atas  seorang hamba dari hambanya yang lebih besar  dari pengetahuan mereka tentang makna Laa Ilaha Illallah “ ( Kalimatul Ikhlas Ibnu Rajab : 103 ). Oleh karena itu kita harus bersemangat memahami kalimat yang agung ini, kalimat yang menjadi sebab manusia  diciptakan, para Rasul diutus, kitab - kitab diturunkan, dan karena sebab kalimat inilah terbagi manusia menjadi orang - orang yang beriman dan orang - orang kafir, kebahagian bagi penduduk surga  dan penderitaan bagi penduduk neraka, kalimat Laa ilaha illallah adalah urwatul wutsqa (tali yang kokoh), kalimat Laa ilaha illallah adalah rukun yang sangat agung dari agama dan cabang yang sangat penting dari keimanan, dan kalimat Laa ilaha illallah adalah jalan meraih surga dan selamat dari neraka. ( Silahkan lihat Fiqh AL Ad’iyah Wal Adzkar  Syaikh    Abdul Razzaq Bin Abdul Muhsin Al Badr : 168, Dar Ibnu Affan )

Maka dari itu sangatlah mendesak bagi kita untuk memahami makna Laa ilaha illallah dengan pemahaman yang benar. Berkata Syaikh Zaid Bin Muhammad Al - Madkholi Hafiidzahullah : ” Wajib atas setiap muslim dan muslimah supaya mereka mempelajari rukun dan syarat Laa ilaha Illallah secara global dan jelas ” ( Syarh Al-Ushulus Tsalasah, Syaikh Zaid : 36 )

Keutamaan  Laa Ilaha Illallah

Sebelum menjelaskan makna Laa ilaha illallah,  alangkah pentingnya bagi kita untuk mengetahui keutamaan Laa ilaha lllallah. Keutamaan Laa Ilaha Illallah sangatlah banyak diantaranya adalah :

1.   Sebab Keberuntungan dan kebahagian, Sebagaimana sebuah hadist, dari Thariq Al Mahariby Radiyallahu ‘Anhu berkata, saya melihat Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam berjalan di pasar dzil madzaz (nama sebuat tempat), memakai baju merah, dan beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : ” Wahai manusia katakanlah oleh kalian Laa Ilaha Illallah supaya kalian beruntung “ (HR. Ibnu Khuzaimah di dalam shahihnya dengan sanad shahih han dishahihkan oleh Syaikh Muqbil didalam shahihul Musnad jilid 1 hal : 535)

2.   Diantara keutamaanya bahwasannya kalimat Laa Ilaha Illallah sesuatu yang paling berat timbangannya. Sebagaimana sebuah hadist, dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “ Sesungguhnya Allah akan membersihkan seseorang dari umatku pada hari kiamat, dibentangkan baginya 99 sijjil (catatan amal) masing-masing sijjil sepanjang pandangan mata. Lalu dikatakan kepadanya: ‘ adakah sesuatu yang kamu ingkari dari hal ini, apakah malaikat pencatatku yang terjaga mendzolimimu’ ? Ia menjawab: ‘Tidak wahai Rabbku’. Kemudian ia ditanya, apakah kamu punya (udzur) alasan atau kebajikan?’ ia menggelengkan kepalanya (menunjukkan tidak punya)  lalu menjawab tidak punya wahai Rabb.’ lalu ia diberi tahu: ‘Sesungguhnya kamu memiliki kebajikan di sisi Kami  dan  kamu tidak akan didzalimi sedikitpun pada hari ini, kemudian dikeluarkan baginya sebuah bithaqah (kartu yang berisi catatan amal) yang di dalamnya tertulis -Asyhadu anlaailaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasulullah-‘ maka dikatakan ” hadirkanlah dan timbanglah bitaqah tersebut’, Maka ia berkata: Wahai Rabb apa arti dari bithaqah (kartu) ini di banding dengan sijjil (lembaran) ini’ Dikatakan kepadanya: ‘Engkau tidak akan didzalimi sedikitpun dan diletakkan sijjil (lembaran-lembaran) pada sebuah daun timbangan dan bitaqah (kartu catatan amal Laa Ilaha Illallah) pada daun timbangan lainnya, terangkatlah sijjil dan menjadi beratlah bitaqah, tidak ada yang lebih berat bersama nama Allah sesuatu apapun.” ( HR Tirmidzi, didalam sunannya dan Ibnu Majah dengan sanad shahih, di shahihkan oleh Syaikh Muqbil didalam shahihul musnad jilid : 1 hal : 535 )

3.   Diantara keutamaan Laa ilaha illallah sebab dikeluarkan dari neraka,
Sebagaimana dalam sebuah hadist, dari Anas bin Malik Radiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Nabi Shalallahu ‘alahi Wassalam bersabda : ” Di keluarkan dari neraka bagi orang yang berkata Laa ilaha illallah dan didalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kebaikan dan dikeluarkan dari neraka bagi orang yang berkata Laa ilaha illallah dan didalam hatinya ada kebaikan seberat biji tepung dan dikeluarkan dari neraka bagi orang yang didalam hatinya ada kebaikan sebesar biji - bijian ” ( HR. Bukhari No : 44 dan Muslim No : 193 )

4.   Diantara keutamaan Laa Ilaha Illallah sebab selamat dari neraka.

Sebagaimana dalam sebuah hadist dari Ubadah Bin Shamit Radiyalallahu ‘Anhu berkata, saya mendengar Rasulullah Shalalahu ‘Alahi Wassalam bersabda, : ” Barangsiapa yang bersaksi Tidak ada ilah ( sesembahan ) yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah maka diharamkan atasnya neraka .” ( HR. Muslim No : 29 )

5.   Diantara keutamaan Laa Ilaha Illallah sebab dimasukkan dalam surga.

Sebagaimana sebuah hadist dari Usman Bin Affan Radiyallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah Shalalahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : ” Barangsiapa yang mati dan ia mengetahui makna Laa ilaha illallah maka ia masuk surga “  ( HR. Muslim No : 26 )

Keutamaan Laa ilaha illallah ini tidaklah didapat kecuali bagi yang mengucapkan Laa ilaha illallah, memahami maknanya dan mengamalkan konsekuensinya. Adapun bagi yang mengucapkan tanpa mengetahui maknanya dan mengamalkan konsekuensinya maka ia tidak mendapatkan keutamaan Laa ilaha illallah, bahkan keislamannya tidak sah disisi Allah. Naudzubillah.

Berkata Syaikh Sulaiman Bin Abdullah Alu Syaikh Rahimahullah : ” Barangsiapa yang bersaksi Laa ilaha illallah yaitu yang mengucapkan kalimat ini, mengetahui maknanya, mengamalkan konsekuensinya secara dzohir dan bathin, sebagimana yang di tunjukkan dalam firman Allah Ta’ala

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ

 ”  Maka ketahuilah, bahwasanya tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Allah dan mohon ampunlah atas dosamu dan dosa orang – orang beriman laki-laki dan perempuan” . ( Qs. Muhammad : 19 ),


إِلا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ


” kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka mengilmui”. ( Qs. Adzukruf : 86 ),


adapun mengucapkannya tanpa mengetahui maknanya dan tidak mengamalkan konsekuensinya, maka yang demikian itu tidaklah bermanfaat menurut kesepakatan Ulama ” ( Taisirul Azizul Hamiid Syarh Kitab Tauhid : 51 )


Oleh karena itu sangatlah mendesak bagi kita untuk memahami makna Laa laha llallah, insya Allah akan di bahas disini secara sederhana dan ringkas.

Makna Laa Ilaha Illallah


Makna Laa ilaha illallah adalah tidak ada ilah ( sesembahan ) yang berhak disembah kecuali Allah, adapun sesembahan selain Allah sesembahan yang bathil, tidak berhak untuk disembah.


Berkata Syaikh Ibnu Baaz Rahimahullah : Makna syahadat Laa Ilaha Illallah adalah   lama’buda bihaqin ilallah ( Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Allah ) ( Syarh Al - Ushulus Stalasah : 59 )


Seseorang dikatakan memahami makna Laa ilaha illallah, jika dia mengetahui bahwasanya hanya Allah sematalah yang berhak disembah dengan berbagai macam ibadah, selain Allah tidak berhak untuk disembah dengan satu macam ibadah apapun dan siapapun orangnya. Dia tidak berdoa kecuali hanya kepada Allah, dia tidak takut dengan takut ibadah kecuali hanya kepada Allah, dia tidak bertawakal kecuali hanya kepada Allah, seluruh ibadahnya dia serahkan hanya untuk Allah semata.


Inilah penafsiran yang benar dari makna Laa ilaha illallah, yang ditafsirkan oleh para ulama ahlus sunnah wa jama’ah, yaitu Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata. Hal ini perlu diperhatikan karena disana ada penafsiran yang salah, sebagimana yang disebutkan oleh Syaikh Sholeh Al - Fauzan di dalam kitabnya, Aqidah Tauhid. Penafsiran Makna Laa ilaha illallah yang salah  itu diantaranya :


1. Lama’buda Illah ( Tidak ada sesembahan kecuali Allah ) penafsiran seperti ini penafsiran bathil dikarenakan maknanya setiap yang disembah baik itu hak atau yang bathil adalah Allah.


2. Laa Kholiqo Illallah ( Tidak ada pencipta kecuali Allah ) Penafsiran seperti ini hanya bagian dari makna Laa ilaha illallah bukanlah yang diinginkan dari penafsiran kalimat ini. Karena penafsiran ini tidaklah menetapkan kecuali tauhid rububiyah semata. Dan itu  tidaklah cukup karena tauhid jenis ini diakui oleh orang - orang musyrik.


3. Laa Haakimiiyatu Illallah ( Tidak ada yang menetapkan hukum kecuali Allah ) Penafsiran seperti ini hanyalah bagian dari makna Laa ilaha illallah. Bukan ini penafsiran yang diiginkan dari makna ini, dikarenakan penafsiran seperti ini tidaklah cukup. Misalnya jika dia mentauhidkan Allah didalam masalah hukum saja, tetapi berdoa kepada selain Allah atau memalingkan ibadah kepada selainnya maka tidaklah dikatakan muwahid (orang yang mentauhidkan Allah).


Dan setiap penafsiran diatas adalah penafsiran bathil dan kurang. Saya ingatkan penafsiran – penafsiran diatas dikarenakan terdapat disebagian kitab - kitab yang beredar ”
( Silahkan lihat Aqidah  Tauhid, Syaikh Sholeh Al-Fauzan : 50 - 51 )

Dari keterangan di atas jelaslah bagi kita bahwa makna Laailahaillallah adalah Tidak ada Ilah ( sesembahan ) yg berhak disembah kecuali Allah. Adapun menafsirkan kalimat Laailahaillallah dengan makna ‘Tidak ada tuhan selain Allah, Tidak ada yang mengatur selain Allah, ‘Tidak ada pencipta selain Allah adalah kurang dan menyelisihi Al Quran dan Sunnah.

Rukun Laa Ilaha Illallah
Kalimat Laailahaillallah memiliki 2 (dua) rukun, yaitu:

1. An-Nafyu (meniadakan) terletak pada kalimat ( Laailaha) Artinya meniadakan seluruh sesembahan selain Allah Ta’ala. Dan mengkafiri sesembahan selain Allah. ( mengkafiri perbuatan peribadahan kepada selain Allah, orang yang menyembah selain Allah, orang yang disembah selain Allah yang ia ridho terhadap penyembahannya tersebut ).

2. Al-Itsbaat ( menetapkan ) pada kalimat ( Illallah )  artinya menetapkan hanya Allah sematalah yang berhak disembah. Dan mengamalkan konsekuensi tersebut. Dalil dua rukun ini adalah Firman Allah Ta’ala


فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى

 ” Barangsiapa ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus “ ( Qs. Al Baqarah : 256 )

Perkataan Ini (  فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ  ) makna rukun yang pertama ( Laa Ilaha  )  perkataan (   وَيُؤْمِنْ بِاللهِ  ) makna rukun yang kedua (  Illallah )
Allah Ta’ala berfirman

إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُون إِلا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ

 ” Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali Allah yang menciptakan ku “ ( Qs. Ibrahim : 26 - 27 )

Perkataan Ini (  إِنَّنِي بَرَاءٌ  ) makna rukun yang pertama (Laa Ilaha )  perkataan (   إِلا الَّذِي فَطَرَنِي ) makna rukun yang kedua (  Illallah )

 ( Kitab Aqidah Tauhid Syaikh Sholeh Al Fauzan Hal : 40 – 41 )

Seorang hamba harus memenuhi dua rukun ini didalam pengucapan kalimat Laa ilaha illallah nya.

Syarat Laa Ilaha Illallah

Sebagaimana dari hasil penelitian dalil - dalil Al - Qur’an dan As - Sunnah bahwa syarat Laailahaillallah ada ada tujuh syarat sebagaimana akan disebutkan disini.

[1] Ilmu (Mengilmui maknanya) yang meniadakan kebodohan
[2] Yakin yang meniadakan syak (keragu-raguan)
[3] Ikhlas yang meniadakan syirik
[4] Shidq ( jujur ) yang meniadakan dusta
[5] Mahabbah ( cinta ) yang meniadakan benci
[6] Inqiyad ( tunduk ) yang meniadakan sikap meninggalkan
 [7] Qabul ( menerima ) yang meniadakan sikap menentang
 ( Silahkan lihat Aqidah Tauhid Syaikh Shalih Al Fauzan Al – dan Wajibat )

Penjelasan Syarat Laa Ilaha Illallah

Perlu diketahui bahwasanya yang di inginkan dari syarat Laa ilaha illallah ini, bukanlah sekedar di hapal semata tanpa ada pengamalan secara dzohir dan bathin. Karena tidaklah bermanfaat pengetahuan seseorang tentang syarat Laa ilaha illallah atau bahkan menghafalnya tetapi tidak terkumpul ke tujuh syarat ini pada amalan mereka. ( Silahkan lihat Tanbihaat Al Mutahatimaat Al Ma’rifat ‘ala Kulli Muslimin wa Muslimat, Ibrahim Bin Syaikh Sholih Al – Qar’awi : 41 Darus Shamiy )

Berkata Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Abdullah Ar – Rajihiy Hafidzahullah : ” Barangsiapa yang berkata Laa ilaha illallah dengan lisannya dan tidak memenuhi syaratnya dari ikhlas, shidq (jujur), mahabbah (cinta) dan inqiyad (tunduk) maka dia seorang musyrik. Dan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : ” Barangsiapa yang berkata tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Allah dan mengkafiri sesembahan selain Allah maka diharamkan hartanya,  darahnya dan perhitungannya disisi Allah “. Dan hal ini yaitu tidak mengkafirkan apa – apa yang disembah selain Allah, merupakan bentuk dia tidak mendatangkan syarat-syarat kalimat ini, kalimat Laa ilaha illallah yang dia ucapkan dengan lisannya di batalkan oleh perbuatannya. ( As’ilatu Wa’ajwibatu Fil Iman wal Kufri, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Abdullah Ar – Rajihiy dan lain – lain  : 45 )

Syarat pertama : Ilmu

Yaitu mengilmui makna Laa ilaha illallah, dari apa – apa yang di nafikan (ditiadakan) dari sesembahan selain Allah dan mengistbatkan (menetapkan) hanya Allah sematalah yang berhaq untuk disembah. Lawan dari syarat ilmu ini adalah al – jahl (bodoh) yaitu bodah dari pengetahuan tentang makna Laa ilaha illallah.
Allah Ta’ala berfirman,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ
“ Maka ilmuilah (ketahuilah), bahwa sesungguhnya tidak ada ( ilah ) sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah.” (QS. Muhammad :19)
Inti ayat ini dijadikan dalil bahwa ilmu syarat Laa ilaha illallah   adalah ayat ini dimulai dari perintah untuk mengilmui kalimat Laa ilaha illallah, didahulukan ilmu dari ucapan dan perbuatan, hal ini menunjukkan ilmu merupakan syarat Laa ilaha illallah 

Begitu juga Allah Ta’ala berfirman,
إِلا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“ Kecuali orang yang bersaksi yang haq (laa ilaha illallah) dan mereka menglimuinya ” ( QS. Az Zukhruf: 86 )
Inti ayat ini dijadikan dalil bahwa ilmu syarat Laa ilaha illallah adalah pada ayat ini ( شَهِدَ بِالْحَقِّ  ) ” bersaksi yang hak ( Laa ilaha illallah ) dengan syarat ilmu    (يَعْلَمُون َ   ) mereka mengetahui makna yang terkandung didalamnya.
Dari ‘Utsman Bin Affan Radiyalallahu ‘Anhu , beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 “ Barang siapa yang mati dalam keadaan mengilmui (mengetahui) bahwa tidak ada ( ilah ) sesembahan yang berhaq disembah kecuali  Allah, maka dia akan masuk surga.” ( HR. Muslim No : 26 )

Disyaratkan pada hadist ini, orang yang mengucapkan Laa ilaha illallah masuk surga dengan syarat mengilmui maknanya.

Syarat kedua : Yakin
Yakin adalah hilangnya keraguan, yang demikian itu karena kuat dan sempurnanya ilmu. Seseorang yang megucapkan kalimat Laa Ilaha Illallah harus yakin terhadap kandungan kalimat ini dengan keyakinan yang kokoh yang tidak tercampur oleh keraguan. Adapun lawan dari yakin adalah Syak (keraguan), yaitu ragu terhadap kalimat ini. Naudzubillah.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا المُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” ( QS. Al Hujurat : 15 )

Inti ayat ini dijadikan dalil bahwa yakin syarat Laa Ilaha Illallah adalah disyaratkan pada ayat ini kejujuran keimanan seseorang kepada Allah dan Rasul Nya dengan tidak dicampuri keraguan (tidak ragu-ragu  يَرْتَابُوا ) yang merupakan lawan dari yakin.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “ Barangsiapa yang  bersaksi bahwa tidak ada yang ilah ( sesembahan ) yang berhak di sembah kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Tidak ada seorang hamba pun yang bertemu Allah (meninggal dunia) dengan membawa kedua persaksian tersebut dalam keadaan tidak ragu-ragu kecuali Allah akan memasukkannya ke surga.” ( HR. Muslim no. 31)

Pada hadist ini disyaratkan orang yang mengucapkan Laa Ilaha Illallah yang menjadi sebab dimasukkannya kedalam surga, dengan syarat tidak ada keraguaan di dalam hatinya. Jika tidak ada syarat maka tidak ada yang disyaratkan.

Syarat Ketiga : Ikhlas
Syarat yang ketiga adalah ikhlas yang meniadakan kesyirikan, kenifaqkan, riya dan sum’ah. Ikhlas adalah membersihkan amal dengan membersihkan niat dari seluruh kotoran syirik.

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas (memurnikan) keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” ( QS. Al Bayyinah  : 5 )

Inti ayat ini dijadikan dalil bahwa ikhlas syarat Laa Ilaha Illallah adalah pada perkataan (dengan ikhlas مُخْلِصِينَ ), yaitu tidaklah mereka diperintahkan untuk beribadah kecuali hanya kepada Allah semata dengan mengikhlaskan ketaatan kepada Nya. Hal ini menunjukkan bahwa ikhlas syarat dari Laa Ilaha Illallah.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

” Orang yang berbahagia karena mendapat syafa’atku pada hari kiamat nanti adalah orang yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan ikhlas dalam hatinya atau dirinya.” ( HR. Bukhari no. 99 )

Pada hadist ini terkandung bahwa ikhlas adalah syarat kalimat  laa ilaha illallah. Dikarenakan tidaklah seseorang mendapat syafaat Nabi di akhirat kelak kecuali bagi orang yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan syarat ikhlas dari hatinya.


Dari Itban Bin Malik Radiyallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : ” Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan laa ilaha illallah karena mengharap wajah Allah ” ( HR. Bukhari No : 415 )

Pada hadist ini Allah mengharamkan bagi orang yang mengucapkan laa ilaha illallah neraka, dengan syarat di ucapkan dengan niat yang ikhlas mencari wajah Allah semata. Hal ini menunjukkan Ikhlas merupakan syarat laa ilaha illallah.

Syarat Keempat : Shidq (jujur)

Syarat yang keempat ini adalah jujur, kejujuran yang meniadakan kedustaan. Maka orang yang mengucapkan laa ilaha illallah diharuskan jujur didalam hatinya, sesuai antara ucapan dan hatinya, adapun jika mengucapkan laa ilaha illallah sementara hatinya mendustakan hal ini seperti kondisi orang munafiq. Naudzubillah

Allah Ta’ala berfirman

الم أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

” Alif Laam Miin, Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan ” Kami telah beriman”, dan mereka tidak di uji. Dan sungguh, Kami telah menguji orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang – orang yang benar dan pasti mengetahui orang – orang yang dusta” ( Qs. AL – Ankabut : 1 sd 3 )


Allah mengkhabarkan pada ayat yang mulia ini, sebuah sunatullah bagi orang yang mengaku beriman akan di uji, untuk menunjukkan kejujuran imannya, apakah ia seorang yang jujur atau seorang yang dusta dalam keimanannya. Maka shidq (jujur) merupakan syarat dari keimanan kepada Allah

Dari Muadz Bin Jabbal Radiyallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : ” Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada ( ilah ) sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya dengan kejujuran dari dalam hatinya, kecuali Allah akan mengharamkan neraka baginya.” ( HR. Bukhari no. 128 Muslim : 32 )

Disyaratkan pada hadist ini orang yang mengucapkan laa ilaha illallah yang diharamkan atasnya neraka, bagi orang yang mengucapkannya yang bersumber dari hati yang jujur.

Syarat Kelima : Mahabbah ( cinta )

Yaitu mencintai kalimat ini dan mencintai kandungan kalimat ini.
Mahabbah ( cinta ) dibagi menjadi dua :

Mahabbah ( cinta ) yang hukumnya wajib : Yaitu mahabbah yang seorang tidak dihukumi sebagai seorang muslim kecuali ada pada dirinya, seperti mencintai Allah, mencintai perkara yang Allah wajibkan padanya dan meninggalkan apa yang diharamkan baginya. Maka jika seseorang pada dirinya tidak ada Mahabbah jenis ini secara keseluruhan atau mahabbah yang tidaklah dikatakan seseorang sebagai seorang muslim kecuali ada mahabbah tersebut pada dirinya. Adapun jika meremehkan sebagian dari kewajiban yang bukan termasuk jenis mahabbah yang merupakan syarat sah keislaman seseorang maka berkuranglah keimanannya sesuai peremahan kewajiban yang ia lakukan.

Mahabbah ( cinta ) sunnah : Yaitu cinta yang menjadi pendorong dia melakukan perkara sunnah.

Adapun mahabbah  ( cinta ) yang dimaksud disini adalah mahabah yang merupakan syarat sah keislaman seseorang.

Allah Ta’ala berfirman

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

” Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan - tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” ( QS. Al Baqarah  : 165 )

Inti ayat ini dijadikan dalil bahwa mahabbah (cinta) syarat Laa Ilaha Illallah adalah bahwasanya mahabbah ( cinta ) adalah ibadah yang sangat agung, yang seseorang tidaklah dikatakan sebagai orang beriman kecuali dengannya.

Dari Anas Bin Malik Radiyallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : ” Tiga perkara yang jika ada pada diri seseorang akan merasakan manisnya iman, Allah dan Rasul Nya lebih di cintai dari selain keduanya, tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah, membenci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana bencinya jika dimasukkan kedalam neraka.” ( HR. Bukhari no : 16 dan Muslim no 43 )

Tidaklah seseorang mendapatkan manisnya iman kecuali mencintai Allah dan Rasul Nya melebihi dari kecintaannya kepada yang lain.

Syarat Keenam : Inqiyad ( tunduk )
Allah Ta’ala berfirman

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى

” Dan barangsiapa berserah diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikkan maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul ( tali ) yang kokoh “.  ( Qs. Luqman : 22 )

Inti ayat ini dijadikan dalil dari inqiyad ( tunduk ) syarat Laa Ilaha Illallah adalah pada perkataan ( berserah diri kepada Allah  وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللهِ ). Jika tidak ada syarat maka tidak ada yang disyaratkan. Jika seseorang tidak mendatangkan syarat inqiyad pada dirinya maka tidak ada yang disyaratkan yaitu tidak ada islam pada dirinya ( islamnya tidak sah )

Syarat Ketujuh : Qabul ( menerima )

Syarat yang ketujuh adalah Qabul ( menerima ), yaitu menerima kandungan makna yang terkandung dari kalimat ini, dari meniadakan dengan hati dan lisannya sesembahan selain Allah dan menetapkan hanya Allah sematalah yang berhak disembah.

Lihatlah pada firman Allah ta’ala,

وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُقْتَدُون قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَى مِمَّا وَجَدْتُمْ عَلَيْهِ آبَاءَكُمْ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ فَانتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ المُكَذِّبِينَ

 “Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”.(Rasul itu) berkata: “Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak - bapakmu menganutnya?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya.” Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” ( QS. Az Zukhruf : 23-25 )

Di jelaskan pada ayat ini bahwasannya mereka menolak kebenaran yaitu lawan dari syarat Laa ilaha illallah qabul ( menerima ) kebenaran maka Allah mengadzabnya.

Perbedaan Inqiyad ( tunduk ) dan Qabul ( menerima )
Qabul lebih umum dari inqiyad, setiap inqiyad pasti qabul tidak setiap qabul pasti inqiyad. Atau inqiyad mengikuti dengan perbuatan


Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

 “Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang aku bawa dari Allah adalah seperti air hujan lebat yang turun ke tanah. Di antara tanah itu ada yang subur yang dapat menyimpan air dan menumbuhkan rerumputan. Juga ada tanah yang tidak bisa menumbuhkan rumput (tanaman), namun dapat menahan air. Lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia (melalui tanah tadi, pen); mereka bisa meminumnya, memberikan minum (pada hewan ternaknya, pen) dan bisa memanfaatkannya untuk bercocok tanam. Tanah lainnya yang mendapatkan hujan adalah tanah kosong, tidak dapat menahan air dan tidak bisa menumbuhkan rumput (tanaman). Itulah permisalan orang yang memahami agama Allah dan apa yang aku bawa (petunjuk dan ilmu, pen) bermanfaat baginya yaitu dia belajar dan mengajarkannya. Permisalan lainnya adalah permisalan orang yang menolak (petunjuk dan ilmu tadi, pen) dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku bawa.” (HR. Bukhari no. 79 dan Muslim no. 2282 )

Pada hadist ini dijelaskan orang yang tidak menerima kebenaran secara keseluruhan dengan berpaling dan meninggalkannya maka dialah orang kafir jika hujah ( penjelasan ) telah tegak padanya. Karena dia tidak mendatangkan salah satu syarat Laa Ilaha Illallah yaitu Qabul  (menerima). ( Silahkan lihat Tanbihaat Al Mutahatimaat Al Ma’rifat ‘ala Kulli Muslimin wa Muslimat, Ibrahim Bin Syaikh Sholih Al – Qar’awi : 41 Darus Shamiy, Shahihul Minal Atsar Fi Khutbatil Mimbar, Faishol Haasidy : 61, Thoriqatul Wusuli ila Idhoohis stalasatil Ushul syaikh Zaid Al Madkholi : 36-41, Al Qaulul Mufid Fi Adilatit Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Al Whusoby )

Konsekuensi Laa Ilaha Illallah
Yaitu dengan meninggalkan ibadah kepada selain Allah dari apa – apa yang disembah. Hal ini terdapat pada perkataan kita ( Laa ilaha ) dan beribadah hanya kepada Allah semata, hal ini terkandung pada kalimat ( Illallah ). Adapun dalil hal ini banyak sekali diantara nya adalah firman  Allah Ta’ala

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ
 ” Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah kecuali Dia ” ( Qs. Al Israa : 23 )

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
” Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan Nya dengan sesuatu apapun “ ( Qs. An – Nisa’ : 36 )
( Al Qaulul Mufid Fi Adilatit Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Al Whusoby : 34 )
***

Budaya Jimat di Masyarakat
23 Januari 2008 9:44dari www.muslim.or.id
Pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah, sungguh keadaan kaum muslimin di zaman kita sekarang ini telah sampai pada tahap yang cukup mengkhawatirkan. Sebagian kaum muslimin terjerumus dan asyik di dalam berbagai macam bentuk dosa. Bahkan di antara mereka ada yang terjerumus ke dalam dosa syirik. Namun yang lebih menyedihkan, mereka tidak mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan itu termasuk ke dalam dosa syirik. Padahal Allah ta'ala berfirman:إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS. An-Nisa: 48)Pada ayat ini, Allah menyatakan bahwa sesungguhnya dosa syirik tidak akan diampuni oleh Allah selama-lamanya kecuali jika pelaku kesyirikan tersebut bertaubat dari dosa syirik yang pernah dilakukannya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui mana sajakah perbuatan-perbuatan yang tergolong kepada dosa syirik, agar dengan demikian kita dapat terhindar dari dosa yang sangat berbahaya ini. Jimat adalah Salah Satu Bentuk Kesyirikan
Salah satu hal yang termasuk dalam kategori dosa syirik adalah jimat (tamimah). Sebagaimana sabda Rasulullah:إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ"Sesungguhnya jampi-jampi, jimat dan pelet termasuk kesyirikan." (HR. Ahmad dan Abu Daud, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ"Barang siapa yang menggantungkan jimat, maka dia telah berbuat syirik." (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)Hakekat Jimat
Jimat pada masa jahiliyah dahulu dikalungkan pada anak kecil atau binatang untuk menolak 'ain (pandangan hasad/dengki, berakibat mudharat bagi orang yang dipandang). Namun pada hakekatnya jimat tidaklah terbatas pada bentuk dan kasus tersebut, akan tetapi mencakup semua benda dari bahan apapun, dikalungkan, digantungkan, diletakkan di tempat manapun dengan maksud untuk menghilangkan atau menangkal marabahaya. Jadi jimat bisa berupa kalung, batu akik, keris, cincin, sabuk (ikat pinggang), atau benda-benda yang digantungkan pada tempat tertentu, seperti di atas pintu, di dalam kendaraan, dipasang pada ikat pinggang, sebagai susuk, atau ditulis di kertas dan dimasukkan di saku celana, dan lain-lain dengan maksud mengusir atau tolak bala'. (Lihat Mutiara Faedah Kitab Tauhid). Ingatlah bahwa setiap jimat pasti tidak terbukti secara syari'at (dalil dari Allah dan Rasul-Nya) maupun logika (hasil eksperimen ilmiah) dapat memberikan manfaat atau menolak bahaya. Budaya Jimat (alias syirik) di Masyarakat
Berikut adalah beberapa contoh budaya jimat di masyarakat saat ini:Apabila ada orang yang memasak sayur lodeh kemudian dimakan dengan tujuan untuk menolak bahaya (tolak bala) seperti wabah demam berdarah (DB). Atau menggantungkan sesuatu paket tolak bala di pintu rumah (yang di dalamnya berisi sumbu kompor, janur kuning, daun gadap, dll) dengan tujuan menolak bala seperti tsunami dan gempa bumi. Maka sayur lodeh dan paket tolak bala tersebut termasuk jimat. Karena secara syari'at, Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menyatakan demikian. Begitu juga secara akal atau berdasarkan eksperimen ilmiah, tidak ada hubungannya antara sayur lodeh atau paket tersebut dengan menghindarkan diri dari bahaya (seperti DB atau tsunami). Karena para ahli di bidang tersebut tidak pernah menyatakan, "Barang siapa yang memakan sayur lodeh maka dia akan terhindar dari DB". Adapun yang disyari'atkan agar dapat menolak bahaya adalah dengan berdoa hanya kepada Allah untuk menghindarkan kita dari bahaya tersebut, sebagaimana Allah berfirman yang artinya, "Tetapi hanya Dialah yang kamu seru, Maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepadanya, jika Dia menghendaki." (Al An'am : 41).
Apabila ada seorang ibu yang meletakkan gunting (atau benda-benda lainnya) di samping bayinya yang baru lahir (sebagaimana yang terjadi di Jakarta dan daerah lainnya) dengan tujuan agar bayi tersebut terhindar dari gangguan setan, maka gunting tersebut adalah jimat. Penjelasannya sebagaimana contoh pertama di atas. Adapun cara yang benar adalah dengan membacakan doa kepada bayi tersebut di antara doanya sebagaimana yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "A'udzuka bikalimaatillahit tammati min kulli syaithonin wa hammatin wa min kulli 'aynin lammatin." (HR Bukhari), yang artinya 'Aku meminta perlindungan kepada Allah untukmu dengan kalimat Allah yang sempurna dari semua gangguan setan dan binatang, serta dari semua bahaya sihir 'ain (pandangan hasad) yang tajam'.
Apabila ada orang yang mengikuti tes penerimaan calon pegawai negeri sipil, kemudian orang tersebut menggunakan pulpen khusus (pulpen keberuntungan) untuk mengerjakan soal dan dia menganggap pulpen tersebut adalah sebab dia lulus tes, maka pulpen tersebut termasuk jimat. Karena tidak ada dasarnya dari Allah dan Rasul-Nya yang menyatakan kedua benda tersebut dapat mendatangkan keuntungan/manfaat. Lagi pula, secara logika, tidak ada hubungannya antara lulus tes dengan pulpen. Sebagus dan semahal apapun pulpen yang digunakan, jika dia tidak dapat menjawab soal, tentu saja dia tidak akan lulus tes. Adapun sikap yang benar adalah hendaknya seseorang belajar sungguh-sungguh agar dapat lulus tes dan tidak lupa untuk selalu berdoa kepada Allah semata agar diluluskan dalam ujiannya tersebut.
Masih banyak contoh macam dan peristiwa lain yang dapat dinilai bahwa benda yang digunakan adalah jimat. Apabila tujuannya adalah untuk menghilangkan atau menolak bahaya dan sebabnya tidak terbukti baik secara syar'i maupun keilmiahan/logika, serta benda itu dikalungkan, digantung atau disimpan dengan cara apapun, maka benda-benda tersebut termasuk jimat.Apabila Jimat Berupa Ayat Al Qur'an...
Pembahasan berikutnya adalah bagaimana seandainya yang digantungkan berupa ayat Al-Qur'an, ayat kursi atau dzikir-dzikir yang ada dalam syari'at? Maka jawabannya adalah seandainya tujuan menggantungkannya tersebut adalah untuk dihafal, maka hal ini dibolehkan. Namun, apabila tujuan menggantungkan ayat tersebut untuk menolak bahaya, maka perkara ini termasuk suatu keharaman. Namun hal ini tidaklah sampai pada tingkatan syirik karena dia telah bersandar pada kalamullah, dan bukan bersandar pada makhluk.Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah melarang penggunaan jimat ini secara umum, tidak dikecualikan satu pun, termasuk al-Qur'an tidak dikecualikan juga. Sebab lainnya adalah hal ini dapat mengantarkan pelecehan terhadap ayat-ayat al-Qur'an, semisal ketika orang yang menggantungkan ayat kursi di lehernya masuk ke kamar mandi dan tempat-tempat buruk lainnya.Apabila seseorang menggantungkan ayat-ayat al-Qur'an (atau tulisan Allah, Nabi Muhammad dan sebagainya) di mobil dengan tujuan agar terhindar dari kecelakaan, maka perbuatan seperti ini haram. Contoh lain adalah menyimpan al-Qur'an ukuran super mini (yang untuk membacanya saja harus menggunakan kaca pembesar) di dompetnya, dengan tujuan menolak bahaya. Maka ini juga termasuk perbuatan yang haram. Hal ini bertentangan dengan tujuan diturunkannya Al-qur'an, yaitu untuk dibaca dan dijadikan pedoman hidup kita.Adapun tulisan-tulisan arab yang tidak jelas maknanya (dikenal dengan sebutan rajah) dan biasa digantungkan di pintu-pintu rumah dengan tujuan untuk menolak bahaya (agar tidak kemasukan pencuri dan sebagainya), maka hal ini termasuk kesyirikan.Bersandarlah Hanya Kepada Allah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ"Barang siapa bersandar kepada sesuatu, maka ia akan disandarkan padanya." (HR Ahmad dan Trimidzi, dihasankan oleh Al Arna'uth).Pada hadits ini, Rasulullah menjelaskan bahwa seseorang akan diserahkan kepada yang dia jadikan sandaran. Seorang muslim yang menyandarkan segala urusannya kepada Allah, maka Allah akan menolong, memudahkan dan mencukupi segala urusannya. Sebaliknya, orang yang bersandar kepada selain Allah (seperti bersandar pada jimat), maka Allah akan membiarkan orang tersebut dengan sandarannya, sehingga kita dapatkan orang-orang semacam ini hidupnya tidak pernah tenang. Dia hidup dengan kekhawatiran dan ketakutan. Dia takut apabila jimatnya hilang atau dicuri, dia kehilangan percaya diri ketika jimatnya tidak bersamanya. Sungguh hal ini merupakan suatu kerugian yang nyata. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang menyandarkan segala urusan hanya kepada-Nya semata. Cukuplah Allah tempat kami menggantungkan segala sesuatu. Wallahu a'lam***Penulis Abu 'Uzair Boris Tanesia
Sumber: Buletin At-Tauhid

   
 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar